Perihnya Harapan
Bukan cintanya yang sakit
Harapan pada manusia sering berujung kecewa
Kembalikan harap hanya pada-Nya
Keywords:
kecewa batin, tauhid harapan, picingmata, dr. fahruddin faiz, dr. fahrudin faiz
Pengalaman pribadi saya sering sekali merasakan perihnya harapan yang tak terwujud, terutama ketika berharap pada seseorang atau situasi tertentu. Seperti yang dijelaskan dalam artikel ini dan oleh dr. Fahruddin Faiz melalui istilah tauhid harapan, terlalu berharap pada manusia berpotensi membawa kekecewaan yang mendalam. Saya belajar bahwa harapan yang besar seringkali berbanding lurus dengan kekecewaan yang dirasakan saat kenyataan tak sesuai ekspektasi. Hal ini sangat terasa ketika kita melekatkan harapan pada orang lain, yang tentu saja memiliki keterbatasan. Dari sudut pandang spiritual, saya mulai mencoba mengalihkan fokus harapan sepenuhnya kepada Allah. Hal ini tidak berarti kita berhenti berusaha atau berharap pada orang lain, melainkan menempatkan Allah sebagai sumber utama pengharapan sehingga ketika manusia gagal atau mengecewakan, hati kita tidak patah. Prinsip yang diajarkan imam Syafi'i ini sangat menguatkan, dimana hati akan lebih terlindungi dari sakit batin jika tidak terlalu berpegang pada harapan dari makhluk. Allah menghalangi kita dari perkara yang tidak baik agar harapan kita hanya kembali kepada-Nya, memberikan ketenangan dan kekuatan batin. Melalui perjalanan spiritual ini, saya menjadi lebih bijak dalam mengelola ekspektasi. Sedikit demi sedikit, rasa pedih akibat kekecewaan mulai berkurang, digantikan dengan rasa syukur dan keikhlasan menerima segala ketentuan. Saya percaya, dengan menumbuhkan tauhid harapan, kita mampu melewati masa sulit dengan lebih kuat dan penuh harapan sejati.































