... Baca selengkapnyaJujur, dulu aku termasuk yang mikir kalau pernikahan itu menakutkan. Tiap dengar cerita orang: rumah tangga ribut, pasangan berubah setelah menikah, sampai masalah ekonomi, rasanya makin ciut nyali. Tapi pelan-pelan aku belajar kalau yang bikin kelihatan seram itu bukan pernikahannya, tapi kurangnya persiapan iman, mental, dan komunikasi.
Dari catatan yang pernah aku pelajari, pernikahan itu kayak lautan: ada pasang surutnya. Di awal biasanya euforia, semuanya serba manis. Tapi setelah fase adaptasi, baru kelihatan karakter asli, kebiasaan kecil yang mengganggu, masalah keluarga, bahkan perbedaan cara ibadah. Di titik ini banyak pasangan yang kaget dan merasa, “Kok nikah begini, ya?” Padahal ini fase wajar, cuma butuh cara pandang dan pondasi yang tepat.
Makanya aku tertarik banget dengan konsep tiga level cinta: visually in love, emotionally in love, dan spiritually in love. Kalau cuma berhenti di fisik dan emosi, begitu tampilan berubah dan mood turun, cinta ikut goyah. Tapi ketika hubungan sudah naik ke level spiritually in love, orientasinya bukan lagi “dia bikin aku bahagia atau enggak”, tapi “bagaimana pernikahan ini sama-sama mendekatkan kami ke Allah”. Di titik ini, kompromi, memaafkan, dan bertahan terasa lebih ada alasannya.
Yang juga bikin pandangan soal pernikahan berubah adalah cara bagi peran di rumah. Dulu aku sering terjebak di narasi: tugas suami vs tugas istri. Tapi dari beberapa kajian, aku belajar untuk menggeser pola pikir jadi: tugas kita vs masalah. Jadi kalau ada masalah keuangan, beban bukan cuma di suami; istri juga bisa bantu cari solusi. Kalau ada pekerjaan rumah menumpuk, bukan berarti itu sepenuhnya urusan istri; suami juga bisa turun tangan. Kuncinya saling ridha dan menyesuaikan dengan tuntunan Al-Quran dan Sunah, bukan standar media sosial.
Komunikasi juga krusial. Aku belajar tiga lingkar komunikasi: dengan pasangan, dengan keluarga, dan dengan orang lain. Dengan pasangan, penting banget belajar mendengar sebelum bereaksi, dan berani bicara sebelum emosi meledak. Dengan keluarga besar, kita perlu jadi jembatan, bukan bensin yang memperbesar konflik. Sementara dengan orang lain, penting menjaga aib pasangan, nggak curhat berlebihan di media sosial, dan nggak lebay memuji pasangan sampai bikin diri sendiri terjebak standar palsu.
Kalau kamu masih takut menikah, boleh kok pelan-pelan mulai dari memperkuat iman dulu. Ikut kajian pranikah, ngobrol dengan pasangan soal nilai-nilai hidup, dan diskusi tentang ekspektasi setelah menikah. Dari situ kamu akan lihat kalau menikah memang bukan hal yang gampang, tapi juga nggak semenyeramkan itu ketika kita siap bertumbuh bareng dan menjadikan iman sebagai pondasi utama.