lADA YANG BENCI & RINDU SUARA ADZAN
📡 Simak Poster selengkapnya:
https://www.instagram.com/p/DTQEesmEkJ3/
Saat suara adzan berkumandang, ternyata tidak semua makhluk menyukainya. Ada yang membenci, ada pula yang sangat merindukan. Dari sini, kita bisa bercermin yaitu bagaimana reaksi hati kita ketika mendengar adzan?
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa setan sangat membenci suara adzan. Bahkan ia lari menjauh agar tidak mendengarnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذا نُودِيَ لِلصَّلاةِ أدْبَرَ الشَّيْطانُ، وله ضُراطٌ، حتّى لا يَسْمع التَّأْذِينَ، فَإِذا قَضى النِّداءَ أقْبَلَ، حتّى إذا ثُوِّبَ بالصَّلاةِ أدْبَرَ، حتّى إذا قَضى التَّثْوِيبَ أقْبَلَ، حتّى يَخْطِرَ بيْنَ المَرْءِ ونَفْسِهِ
“Apabila adzan dikumandangkan, maka setan berpaling sambil kentut hingga dia tidak mendengar adzan tersebut. Apabila adzan selesai dikumandangkan, maka ia pun kembali. Apabila dikumandangkan iqamah, setan pun berpaling lagi. Apabila iqamah selesai dikumandangkan, setan pun kembali, ia akan melintas di antara seseorang dan nafsunya.” (HR Bukhari: 608 dan Muslim: 389).
Setan membenci adzan karena adzan berisi kalimat tauhid, mengagungkan Allah, dan mengajak manusia untuk shalat. Padahal tujuan setan adalah menjauhkan manusia dari mengingat Allah
Sebaliknya, orang beriman justru mencintai dan merindukan adzan. Karena adzan adalah panggilan Allah untuk beribadah dan mendekat kepada-Nya. Bahkan shalat tepat waktu adalah amalan yang paling dicintai Allah. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi ﷺ:
“’Amal apakah yang paling dicintai Allah?’ Nabi ﷺ menjawab dengan sabdanya:
ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﻭﻗﺘﻬﺎ
‘Shalat itu pada waktunya’.” (HR Bukhari: 5970 dan Muslim: 85).
Jika setan lari karena takut mendengar adzan, maka orang beriman seharusnya mendekat dengan penuh semangat. Namun jika kita justru merasa terganggu ketika adzan terdengar karena kesibukan dunia, mari kita periksa hati kita.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang rindu pada adzan dan segera memenuhi panggilan-Nya.
Allāhu Ta‘ālā a‘lam bishawāb.
__
♻️ Silahkan disebarluaskan
Sebagai seseorang yang rutin mendengar suara adzan setiap hari, saya menyadari bahwa reaksi kita terhadap panggilan ini bisa sangat berbeda-beda. Ada kalanya saya sendiri merasakan ketenangan dan motivasi untuk segera melaksanakan shalat ketika mendengar adzan. Namun, bukan hal yang jarang juga saya menyadari bahwa dalam kesibukan, terkadang suara adzan malah terasa mengganggu fokus saya. Dari pengalaman pribadi, memahami bahwa setan sangat membenci suara adzan, seperti dijelaskan dalam hadis, membuat saya termotivasi agar tidak mudah terganggu dan justru menjadikan adzan sebagai pengingat yang kuat untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Saya pernah mencoba memfokuskan hati dan pikiran sepenuhnya saat adzan berkumandang, merasakan bagaimana hati menjadi lebih tenang dan sadar akan panggilan ibadah. Lebih dari itu, saya juga menyadari pentingnya mensyukuri nikmat bisa mendengar suara adzan sebagai salah satu cara Allah mengingatkan kita agar tidak lalai dari shalat. Tentunya, bagi sebagian orang yang berada di lingkungan dengan suara adzan yang kurang optimal atau bahkan jarang terdengar, kerinduan terhadap adzan ini bisa menjadi sangat mendalam. Saya pernah berdiskusi dengan teman yang tinggal di luar negeri yang mengungkapkan rasa rindunya pada suara adzan yang sering mengingatkannya untuk shalat tepat waktu. Dalam keseharian, menjaga hati agar selalu rindu pada suara adzan berarti juga memaknai waktu shalat sebagai momen penting yang paling dicintai Allah. Oleh karena itu, mencoba untuk mendekat dan bergegas menuju shalat setelah adzan berkumandang menjadi amalan yang luar biasa bernilai. Saya juga merefleksikan bahwa bila kita merasa terganggu dengan adzan, hal itu bisa menjadi alarm untuk memeriksa kondisi spiritual dan prioritas hidup. Apakah kita sudah terlalu sibuk dengan dunia hingga lupa akan kewajiban pada Allah? Atau apakah kita sudah kehilangan rasa cinta kepada ibadah? Secara pribadi, dengan terus memperdalam pemahaman tentang makna adzan dan pentingnya shalat tepat waktu, saya semakin berusaha memperbaiki hubungan batin dengan panggilan tersebut. Semoga kita semua bisa menjadi hamba yang tidak hanya sekadar mendengar adzan, tapi juga selalu rindu dan segera memenuhi panggilan-Nya.
