... Baca selengkapnyaDalam pengalaman banyak orang, menyadari tanda-tanda yang menunjukkan jarak dengan Allah memang bukan hal yang mudah. Saya pernah merasakan bagaimana hati menjadi keras dan sulit menerima nasihat, bahkan ketika banyak orang di sekitar saya mengingatkan tentang pentingnya memperbaiki diri. Hal ini sejalan dengan QS. Az-Zumar ayat 22 yang mengingatkan kita tentang bahayanya hati yang membatu.
Salah satu tanda paling mengkhawatirkan adalah ketika kita mulai merasa nyaman dengan dosa dan menganggapnya sebagai hal yang biasa. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa dosa meninggalkan bekas titik hitam di hati, dan jika tidak segera bertaubat, hati akan menjadi gelap. Saya belajar bahwa kesadaran dan penyesalan adalah kunci untuk membuka kembali pintu rahmat Allah. Selama kita masih diberi kesempatan hidup, tidak ada kata terlambat untuk bertaubat dan memperbaiki diri.
Penting juga untuk menyadari bagaimana nikmat atau rezeki yang kita terima kadang membuat kita semakin lalai. Allah berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 19 yang menegaskan bahwa lupa kepada Allah bisa membuat seseorang lupa pada dirinya sendiri. Dari pengalaman pribadi, menggunakan nikmat yang diberikan untuk kebaikan dan selalu bersyukur dapat memperkuat iman dan mendekatkan diri pada-Nya.
Selain itu, pola interaksi dengan sesama juga menjadi cerminan hubungan kita dengan Allah. Bila kita senang menzalimi atau merugikan orang lain tanpa rasa takut, itu menunjukkan hati yang sudah jauh dari rahmat-Nya. Sebaliknya, berusaha memperbaiki hubungan dengan orang lain juga bisa menjadi langkah memperbaiki hubungan dengan Allah.
Saya menyarankan untuk fokus pada evaluasi diri sendiri daripada mencari siapa yang dibenci Tuhan. Perubahan positif dimulai dari niat dan usaha terus menerus untuk memperbaiki diri serta meningkatkan kualitas ibadah, seperti menjaga salat, memperhatikan halal dan haram, dan membuka hati untuk menerima nasihat agar tidak sulit menerima kebenaran.
Semua proses ini memang menantang, tapi saya berpengalaman bahwa dengan istiqamah dalam doa, taubat, dan usaha memperbaiki diri, hati yang keras dan jauh bisa menjadi lembut dan dekat lagi dengan Allah. Dengan begitu, kita bisa menjadi hamba yang dicintai-Nya, bukan yang dibenci.