... Baca selengkapnyaAku dulu sering ngerasa, "kok dia kayak nggak ngerti ya?" Padahal aku sudah berusaha jadi pasangan yang baik: mendengarkan, memberi, mendoakan, tapi tetap aja ada momen di mana aku merasa tidak dihargai pasangan. Bukan cuma dari kata-kata yang menyakitkan, tapi juga dari sikap cuek, janji yang sering dilanggar, atau respon yang dingin saat aku cerita.
Di titik itu aku sadar, mencintai pasangan itu bukan berarti kita harus rela terus-terusan terluka. Justru kita perlu belajar sayang sama diri sendiri dulu supaya bisa sayang ke dia dengan cara yang sehat. Salah satu yang paling membantu aku adalah belajar ngomong jujur tanpa menyalahkan. Bukan dengan kalimat, "kamu nggak pernah hargai aku", tapi diganti jadi, "aku sedih waktu kamu batalin janji tanpa kabarin, aku jadi ngerasa nggak dihargai". Ternyata bedanya kerasa banget di cara pasangan merespon.
Selain cara komunikasi, aku juga mulai memperhatikan apakah dia betul-betul mendengarkan tanpa menginterupsi saat aku bicara. Dulu, tiap diskusi pasti ujung-ujungnya debat. Sekarang aku coba pakai prinsip: mendengarkan dulu sampai selesai, baru menjawab tanpa mendebat. Kadang kita maunya dimengerti, tapi lupa buat mengerti. Dari situ aku belajar, rasa tidak dihargai itu bisa sedikit berkurang kalau dua-duanya mau saling denger.
Hal lain yang penting adalah menepati janji, sekecil apa pun. "Aku telpon nanti malam ya" itu tetap janji. Kalau berkali-kali diingkari, wajar banget kalau kita merasa remeh dan nggak dianggap. Aku mulai belajar untuk nggak gampang mengiyakan sesuatu kalau memang belum yakin bisa. Lebih baik jujur dari awal daripada bikin pasangan merasa diabaikan.
Kalau kamu lagi merasa nggak dihargai pasangan, coba cek dulu: apakah kamu sudah mengurangi keluhan dan mulai menyampaikan kebutuhanmu dengan jelas? Mengeluh terus justru bikin pasangan defensif. Tapi kalau kita ngomong dari sudut perasaan, biasanya mereka lebih mudah menerima. Misalnya, "Aku butuh kamu lebih hadir waktu aku lagi cerita" daripada "kamu tuh nggak pernah dengerin aku".
Di sisi lain, penting juga buat kita punya batas. Mendoakan tanpa henti, memaafkan dengan ikhlas, setia, memberi dengan tulus—semua itu indah, tapi bukan berarti membiarkan diri disakiti terus-menerus. Kalau sudah berkali-kali ngomong baik-baik tapi sikapnya tetap sama, justru di situ kita diuji: kita masih mencintai pasangan, atau cuma takut kehilangan? Kadang cara terbaik mencintai diri dan hubungan adalah berani mengambil jarak sementara, supaya dua-duanya bisa mikir jernih.
Aku nggak bilang semua orang harus bertahan atau harus pergi. Tapi yang pasti, cintamu juga berharga. Sama seperti kamu ingin dihargai pasangan, kamu pun berhak memilih lingkungan yang membuatmu tumbuh, bukan mengecil. Pelan-pelan saja, mulai dari memperbaiki cara bicara, belajar mendengarkan tanpa menginterupsi, menepati janji, dan jujur soal rasa tidak dihargai yang kamu rasakan. Dari situ kamu bisa lihat, apakah dia layak dipertahankan—atau justru kamu yang perlu belajar melepaskan.
kalo aku tambah satu lagi kaka, menerima kekurangan dengan ikhlas juga 🤩👍