... Baca selengkapnyaAku sempat berada di fase hidup di mana semua yang aku lakukan seolah-olah cuma buat dipuji orang lain. Rasanya capek banget. Kalau nggak dapat pengakuan, langsung overthinking: āKurang bagus ya?ā, āAku emang nggak bisa kali ya?ā. Sampai akhirnya aku sadar, hidup kayak gitu tuh nggak sehat.
Perlahan aku mulai belajar kalau nggak semua hal perlu divalidasi orang lain. Misalnya, ketika ambil keputusan kecil kayak potong rambut, ganti gaya pakaian, atau mulai hobi baru, aku biasain buat tanya ke diri sendiri dulu: āIni bikin aku bahagia nggak?ā, bukan āNanti orang lain suka nggak, ya?ā. Pas mulai geser fokus ke perasaan sendiri, beban di kepala berasa jauh berkurang.
Hal lain yang aku coba dieliminasi adalah lingkungan yang beracun. Bukan berarti tiap ada orang beda pendapat langsung dicap toxic, ya. Tapi kalau kamu sering merasa diremehkan, dibanding-bandingkan, atau selalu dibuat merasa salah, itu tanda kamu perlu jaga jarak. Awalnya nggak mudah, apalagi kalau lingkaran itu udah lama banget. Tapi aku mulai dari hal kecil: kurangi curhat ke mereka, batasi intensitas ketemu, dan lebih banyak habiskan waktu dengan orang-orang yang suportif.
Kebiasaan membandingkan diri juga pelan-pelan aku kurangi. Dulu tiap lihat pencapaian orang di media sosial, langsung mikir, āKok hidup aku gini-gini aja?ā. Padahal kita nggak pernah benar-benar tahu perjuangan mereka di balik layar. Sekarang, tiap mulai kepikiran banding-bandingin, aku alihin ke evaluasi diri: bukan āKenapa aku nggak kayak dia?ā, tapi āLangkah kecil apa yang bisa aku lakuin hari ini buat versi diriku sendiri?ā.
Soal ragu sama kemampuan diri sendiri, ini juga sering banget muncul. Kadang kita sebenarnya mampu, tapi otak keburu bilang, āKayaknya susah deh, jangan coba, takut gagalā. Padahal gagal itu wajar. Aku mulai biasain diri buat nyoba dulu, baru nilai belakangan. Bahkan kalau hasilnya belum maksimal, minimal aku punya pengalaman baru.
Intinya, hal-hal yang perlu dieliminasi ini bukan sekadar daftar di kepala, tapi benar-benar perlu dipraktikkan pelan-pelan. Nggak harus langsung sempurna. Kamu boleh kok sesekali masih butuh pengakuan orang lain, itu manusiawi. Tapi jangan sampai seluruh hidupmu digerakkan oleh itu.
Kalau sekarang kamu lagi berproses mengurangi kebutuhan pengakuan orang lain dan coba keluar dari lingkungan yang beracun, kamu nggak sendirian. Pelan-pelan aja, yang penting kamu terus bergerak. Di akhir hari, yang paling tahu apa yang kamu lalui dan apa yang kamu butuhkan ya cuma kamu sendiri.
sebelum sama suamiku aku terpaku sama masa lalu kaka, bahkan udah mikir "yaudahlah kalo emang harus hidup sendiri" udah pasrah lah pokonya, eh Allah malah deketin aku sama suami š¤
sebelum sama suamiku aku terpaku sama masa lalu kaka, bahkan udah mikir "yaudahlah kalo emang harus hidup sendiri" udah pasrah lah pokonya, eh Allah malah deketin aku sama suami š¤