Iya, saya lihat orang lain sudah nyaman dengan iPhone terbaru, masak daging pakai presto tinggal tunggu empuk, dan bikin bumbu pakai chopper secepat kilat. Tapi coba lihat diri saya... HP masih setia sama si Android kesayangan dengan case gemes, nyuci baju masih sikat manual (biar bersih maksimal katanya!), dan bumbu masih dihajar pakai ulekan legendaris turun temurun.
Dunia mungkin sudah upgrade ke serba digital dan otomatis, tapi saya memilih menghargai proses manual yang penuh makna (dan sedikit berkeringat 😅). Meskipun jadul, ada pelajaran berharga di setiap usaha:
• Ulekan: Mengajarkan kesabaran dan bumbu lebih meresap.
• Sikat Manual: Mengajarkan ketelatenan dan kekuatan tangan.
• Android: Mengajarkan untuk lebih fokus pada fungsi daripada gengsi.
Yang terpenting, di tahun 2025 ini saya masih bisa melakukan semua hal dengan sehat, rezeki lancar, dan hati yang selalu bersyukur. Teknologi canggih itu bonus, tapi kesehatan dan kebahagiaan adalah reward utamanya.
Giliran kamu! Jujur, dari semua 'cara jadul' di foto ini, mana yang masih banget kamu lakukan sampai sekarang?
... Baca selengkapnyaKalau ngomongin panci presto jadul, aku tuh langsung keinget dapur rumah orang tua. Bentuknya besar, berat, tutupnya pakai pengunci besi yang kalau masak bunyinya nyaring banget. Di 2025 ini, orang lain mungkin sudah pakai panci presto modern yang lebih ringan dan ada indikator tekanan segala, tapi jujur aku masih relate sama panci presto jaman dulu.
Dari pengalamanku, panci presto jadul itu kelihatannya ribet, tapi kalau sudah terbiasa, rasanya malah lebih percaya diri. Biasanya aku pakai buat masak daging atau kikil. Tipsku, kalau pakai panci presto jaman dulu, pastikan karet seal-nya masih bagus dan lubang uapnya nggak mampet. Aku biasa cek dulu dengan menuangkan air dan memanaskannya sebentar, kalau uapnya keluar lancar berarti aman dipakai.
Beda lagi kalau lihat panci presto modern yang tinggal klik dan ada pengaturan waktu, memang praktis, tapi sensasi nunggu bunyi ‘desis’ dari panci presto jadul itu ada kepuasan tersendiri. Berasa lagi ikut bantu proses masaknya, bukan cuma tinggal pencet terus ditinggal. Apalagi kalau sambil mengulek bumbu manual, aromanya pelan-pelan keluar, bikin dapur berasa hidup banget.
Buat yang baru pertama kali mau pakai panci presto jadul, menurutku jangan takut duluan. Mulai dari jumlah air yang cukup (jangan terlalu sedikit biar nggak gosong), jangan isi panci terlalu penuh, dan setelah selesai masak, tunggu tekanan turun sebelum buka tutupnya. Dulu aku sempat parno buka panci presto, tapi lama-lama belajar sabar, matikan api dulu, geser dari kompor, dan tunggu sampai bunyinya benar-benar hilang.
Aku juga ngerasa, pakai panci presto jaman dulu itu bikin aku lebih mindful. Sambil nunggu daging empuk, aku biasanya cuci baju, entah itu dengan mesin cuci biasa atau kadang masih sikat manual kalau ada noda bandel. Jadi satu sesi masak bisa sekalian beresin kerjaan rumah yang lain.
Kalau kamu di rumah masih punya panci presto jadul peninggalan orang tua atau nenek, nggak ada salahnya tetap dipakai selama kondisinya masih layak. Bisa banget jadi cara hemat tanpa harus beli yang baru. Yang penting rajin dicek karetnya, gagang dan penguncinya kuat, serta bagian bawah panci nggak terlalu tipis atau penyok.
Jadi, meski sekarang serba canggih, aku pribadi merasa sah-sah aja tetap nyaman sama panci presto jadul dan cara masak tradisional. Selama makanannya tetap enak, keluarga kenyang, dan kita merasa aman pakainya, menurutku nggak ada yang salah dengan tetap ‘jadul’ di tahun 2025.
sama nih kak. aku msh ngulek & hp android😂👍