Selama satu dekade, saya memikul beban kebencian itu ke mana pun saya pergi. Usaha untuk melepaskan diri darinya bukan hal yang mudah, karena kebencian itu telah berakar begitu dalam. Tapi akhirnya, di usia 20, saya paham bahwa kebencian hanyalah beban yang menyakiti diri sendiri.
Bahwa memaafkan bukan soal membenarkan kesalahan yang terjadi, tapi soal memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas lebih lega lagi.
Dulu, marah terasa adil. Kebencian terasa seperti perlindungan terakhir dari luka. Tapi seiring waktu, saya sadar bahwa yang paling terpenjara justru diri sendiri.
Memaafkan bukan berarti lupa. Bukan berarti semua baik-baik saja. Tapi lebih pada menerima bahwa masa lalu tidak bisa diubah, dan yang bisa dikendalikan hanya bagaimana cara melangkah ke depan.
Dan untuk pertama kalinya, saya memilih berjalan tanpa memikul beban itu lagi.
Sekarang saya mampu melihat beliau telah melakukan versi terbaik dirinya sesuai perannya dengan keterbatasannya. Bahasa cintanya yang tak pernah mampu saya baca kini bisa saya terima. So, teruntuk bapak love you and thank you❤
Nanti kita jumpa🫂
Desember waktu itu, saya menerimamu sekaligus melepas ilusi rasa sakit itu. Karena pada nyatanya tidak ada yang benar-benar menyakiti saya, kita hanya beda menerjemahkan bahasa rasa🙏
... Baca selengkapnyaKalau menilik gambar pada sampul dengan siluet seseorang di dekat jendela, suasana yang aku mau sampaikan sebenarnya cukup gelap dan sunyi. Rasanya kayak berdiri sendirian, cuma ditemani bayangan diri sendiri di kaca, sambil nahan semua hal yang nggak pernah benar‑benar diucapkan. Buat aku, bayangan diri sendiri itu dulu menakutkan, karena di sana aku melihat sosok yang paling aku benci—dan sayangnya, dia ada di dalam diriku.
Ada masa di mana tiap kali bercermin, aku cuma fokus ke hal‑hal yang mirip dengan orang yang pernah melukaiku: cara menatap, bentuk wajah, bahkan cara diam. Seolah aku nggak dikasih ruang untuk jadi aku sendiri. Di situ, kebencian ke orang lain pelan‑pelan berubah jadi kebencian ke bayangan diri. Padahal, bayangan itu cuma pantulan—bukan sumber masalahnya.
Di titik terendah, aku sempat merasa pengin lari dari semuanya: dari rumah, dari masa lalu, dari kenangan, bahkan dari tubuh sendiri. Tapi sejauh apa pun aku coba lari, bayangan sendiri selalu ikut. Siluet pepohonan di bawah langit gelap dan bulan di foto‑foto itu menggambarkan banget perasaan itu: kamu bisa jalan sejauh apa pun, tapi bayangan masa lalu tetap nempel.
Lalu, gimana cara mulai melepaskan yang menyakitimu? Buat aku, prosesnya pelan sekali:
1. Mengakui dulu kalau aku memang terluka. Bukan melebih‑lebihkan, tapi juga bukan mengecilkan. Di tahap ini, aku banyak menulis jurnal tentang apa saja yang sebenarnya bikin sesak.
2. Mengizinkan diri marah, tapi nggak tinggal di sana terlalu lama. Marah itu wajar, tapi kalau dipeluk terus, dia berubah jadi kebencian pada diri sendiri.
3. Mencoba melihat orang yang kusalahkan sebagai manusia biasa, dengan luka dan keterbatasannya sendiri. Di sini aku mulai bisa memahami, meski belum tentu membenarkan.
4. Pelan‑pelan berdamai dengan bayangan diri: bercermin bukan untuk mencari kekurangan, tapi untuk bilang, "Kamu aman sekarang. Kita nggak harus mengulang cerita yang sama."
Siluet tiang listrik dan langit mendung di gambar lain menggambarkan fase ketika hidup terasa penuh kabel kusut—pikiran yang saling silang, nggak karuan. Tapi ada juga foto langit cerah dan cahaya terang, yang menurutku mewakili momen ketika aku mulai sadar: aku boleh, kok, memilih arah sendiri. Warisan DNA nggak otomatis menentukan hidupku.
Sekarang, kalau aku melihat bayangan sendiri, rasanya sudah beda. Masih ada hari‑hari gelap, tapi aku nggak lagi membenci sosok di depan cermin. Aku belajar melihatnya sebagai teman seperjalanan yang juga capek, juga berusaha, dan layak dipeluk. Menerima bayangan diri sendiri bukan berarti melupakan semua yang pernah terjadi, tapi mengakui bahwa aku berhak punya cerita baru tanpa terus dikendalikan masa lalu.