Nama aku RATU
Di saat bersamaan Bu Susi ternyata menyusul Ratu ke ruang tamu. "Loh Ratu! Kok bengong,"
Ratu yang masih berdiri di tempatnya tersentak kaget dan langsung menoleh ke Bu Susi yang berjalan ke arahnya, sedangkan Deni yang berada di teras ikut terkejut mendengar suara ibunya seketika buru-buru berdiri dari kursi lalu membalikkan tubuhnya.
"Ratu?!" ucap Deni panik saat melihat Ratu berdiri diambang pintu.
Ratu yang sedang melihat ke arah Bu Susi, menoleh ke Deni yang berdiri menatapnya penuh tanya. Menyadari ada yang tidak beres dengan Deni, Ratu dengan cepat mengendalikan dirinya. "Kak Deni dari mana?" tanyanya pura-pura tidak melihat Deni duduk di teras.
"Oh. A_ku dari depan," jawanya bohong lalu memasukkan ponselnya ke saku celana.
"Hm...." Ratu mengangguk tesenyum tipis. "Bu. Aku ke toko depan dulu, ya. Mau beli bahan _jalangkote_," pamitnya sambil memperlihatkan kertas di tangannya yang sudah terkoyak.
"Biar diantar Deni atau suruh Deni saja yang belikan," Bu Susi meliirk ke Deni yang masih terpaku berdiri.
"Tidak usah, Bu. Aku sebentar aja, kasian Kak Deni baru tiba tadi pagi sudah jemput aku." Senyum Ratu di buat manis ke Deni.
Tidak mau lama-lama dan khawatir Deni tahu kalau ia mendengar pembicaraannya di telepon, Ratu langsung memakai sendalnya. "Aku jalan dulu, ya Bu, Kak Deni." Dengan langkah terburu-buru Ratu berjalan ke luar.
Baru saja langkahnya menjauh dari rumah Deni, ia baru sadar kalau tidak membawa dompet. '"Duh! Masa ke toko tidak bawa dompet," rutuknya.
Mau tidak mau, Ratu terpaksa berbalik kembali ke rumah Deni, kali ini langkahnya sedikit di buat lambat. Di lihatnya pintu rumah Deni sudah tertutup, dengan langkah pelan ia mendekati pintu.
Ternyata pintu itu tidak tertutup rapat, sehingga ia bisa mendengar suara Deni dan Bu Susi yang masih berada di ruang tamu.
"Apa tadi Ratu dengar aku teleponan sama Silvia?" tanya Deni yang terdengar khawatir.
"Yah mana Ibu tahu!" sungut Bu Susi.
"Ibu sih. Pake ajak-ajak Ratu langsung ke dapur. Aku pikir dia masih di dapur temanin Ibu." Deni mendengus kesal.
"Loh. Kamu malah salahin Ibu!" hardik Bu Susi tidak terima. "Salah kamu sendiri! Sudah tahu si Ratu ada di rumah kamu malah teleponan sama Silvia!" bentak Bu Susi kesal.
"Maaf, ya, Bu." Rayu Deni cengengesan.
"Kamu kan tahu kalau Ibu itu butuh resep sambal _jalangkote_nya si Ratu, supaya ibu bisa buka usaha _jalangkote_." Jelas Bu Susi. "Masalah kamu mau pilih Ratu atau Silvia, terserah kamu, deh."
"Yah jelaslah aku pilih Silvia! Sudah cantik, Sarjana, kerja kantoran," puji Deni.
"Iya juga sih? Tapi kamu kan bukan sarjana, apa Silvia mau terima?"
"Maulah! Buktinya dia dan Ratu sama-sama cinta mati ke aku!" seru Deni yang terdengar sangat percaya diri.
"Kamu memang paling jago bersandiwara," ledek Bu Susi.
"Sama dengan ibu kan. Suruh ajak Ratu ke rumah, alasan bantuin masak, padahal ibu mau tahu rahasia cara masaknya si Ratu."
Terdengar tawa Deni di susul tawa Bu Susi.
"Lebih parah kamu. Semua biaya kursus bahasa inggris, kursus bawa mobil, sama apalagi satunya tuh?" Bu Susi lupa nama kursus yang sudah di ikuti Deni.
"Oh, itu kursus kendaraan alat berat." Sambung Deni.
"Iya itu. Semua kursus kamu itu, Ratu yang bayarin!" Kali ini suara Bu Susi terdengar meninggi.
"Ibu suaranya jangan keras-keras. Nanti di dengar Ratu."
"Anak itu kan lagi ke toko. Kasihan juga sih sama dia, tapi mau gimana lagi. Hidup ini kan harus kita manfaatkan sebaik-baiknya." Suara Bu Susi terdengar pelan.
"Termasuk memanfaatkan si Ratu juga ya, Bu?"
Bukannya menjawab, Bu Susi malah terdengar tertawa. "Haha ... Ayo bantuin ibu angkat air rebusan."
Terdengar suara Deni dan Bu Susi menjauh dari ruang tamu.
Sepi.
Ratu yang sedari tadi berdiri di pintu mendengar jelas semua percakapan Deni dan Bu Susi. "Ternyata kalian hanya memanfaatkanku?" lirihnya sedih tapi ia berusaha untuk tidak menangis. "Aku harus bagaimana?"
Bersambung
















































