Aku Pernah Bocorin Rencanaku ke Temen, Malah Gagal
Temen-temen ada gak yang sama?
Sssst! 🤫 Kadang, rencana terbaik adalah rencana yang kita simpan rapat-rapat tau..
Bukan karena kita pelit info, tapi biar energi dan fokus kita 100% buat eksekusi, bukan buat sounding ke semua orang.
Bener kata emak, di setiap nikmat tuh ada potensi hasad (iri hati) yang bisa melemahkan. Jadi, biar rencana kita mulus sampai garis finish, simpan dulu rapat-rapat.
Biar Allah dulu yang tahu, baru nanti hasilnya yang koar koar..
... Baca selengkapnyaAku dulu tuh tipe orang yang kalau punya rencana, apalagi yang bikin excited, pasti pengen cerita ke temen-temen. Niatnya baik, supaya didoain, disupport, dan merasa nggak sendirian. Tapi setelah beberapa kali kejadian, termasuk rencana yang aku bocorin lalu malah gagal dan dijadiin bahan candaan, aku jadi mulai mikir ulang.
Waktu itu aku punya satu rencana besar yang bener-bener aku perjuangin. Aku cerita ke salah satu temen, detail banget dari awal sampai akhir. Dia sih awalnya keliatan dukung, tapi setelah rencananya nggak berjalan mulus, justru dia yang paling sering ngungkit kegagalan itu. Bahkan kadang dijadiin bahan bercandaan di depan orang lain. Padahal di posisi itu aku lagi down dan butuh dipahami.
Dari situ aku mulai nemu banyak bahasan tentang hadis keberhasilan yang nyaranin kita buat menyimpan rencana baik sampai Allah tampakkan hasilnya. Ada juga nasihat ulama yang bilang, bukan semua hal harus diceritakan ke orang lain, apalagi di awal-awal proses. Karena di setiap nikmat dan harapan selalu ada potensi hasad (iri), entah disadari atau nggak. Hasad ini yang katanya bisa ngeganggu keberkahan usaha kita.
Aku juga jadi mikir soal energi. Waktu rencana masih berupa wacana, kadang kita sudah keburu habis energi buat cerita ke sana-sini, minta komentar, validasi, dan pengakuan. Padahal harusnya energi itu dipakai buat eksekusi. Rasanya kayak sudah puas duluan karena sudah dipuji, padahal hasilnya belum ada. Di titik ini, aku akhirnya paham kenapa ada orang yang memilih diam dulu, baru "koar-koar" setelah semuanya benar-benar jadi kenyataan.
Sekarang, tiap punya rencana, apalagi yang menyangkut masa depan dan hal-hal penting, aku coba praktekin beberapa hal:
1. Tulis dulu di jurnal pribadi, bukan di media sosial. Biar hati lebih tenang dan fokus.
2. Ceritakan seperlunya saja, hanya ke orang yang bener-bener bijak dan bisa jaga amanah.
3. Perbanyak doa diam-diam, kayak lagi ngobrol langsung sama Allah. Minta dimudahkan, dijauhkan dari hasad, dan diberi yang terbaik, entah jadi atau tidak.
4. Kalau gagal, belajar menerimanya sebagai bagian dari proses. Bukan otomatis nyalahin temen, tapi tetap waspada bahwa nggak semua telinga cocok untuk mendengar semua cerita.
Aku juga pernah nongkrong di sebuah coffee shop kecil yang vibes-nya tenang (mirip suasana di depan pintu kaca bertuliskan "URBAN BREW" di foto). Di situ aku duduk sendirian sambil pegang kopi, ngerapihin lagi rencana-rencana hidup yang dulu pernah aku umbar. Rasanya beda banget ketika kita punya rencana yang cuma kita dan Allah yang tahu. Ada rasa aman, terlindungi, dan nggak perlu takut diejek kalau sampai gagal.
Menurutku, hadis keberhasilan yang nyaranin kita buat merahasiakan rencana itu justru bikin kita lebih sehat secara mental. Karena ketika kita jatuh, kita nggak perlu menghadapi beban tambahan berupa komentar orang lain yang suka mengungkit masa lalu. Yang tahu proses jatuh bangun kita ya cuma diri sendiri dan Allah.
Jadi kalau kamu lagi punya rencana besar, boleh banget belajar dari pengalamanku: simpan dulu rapat-rapat, perkuat ikhtiar dan doa, biarkan hasilnya saja yang terlihat. Biar Allah dulu yang tahu perjalananmu, baru nanti kalau sudah berhasil, kamu bisa cerita dengan hati yang lebih lega dan penuh syukur.
Penjaga terbaik dalam rencana kita cuma suami kalo orang yg mau kita share
Dan Allah pastinya karena Allah lah yg mempermudah semuanya
Banyak yg hasad kak jadi gak boleh asal cerita
Penjaga terbaik dalam rencana kita cuma suami kalo orang yg mau kita share Dan Allah pastinya karena Allah lah yg mempermudah semuanya Banyak yg hasad kak jadi gak boleh asal cerita