Karena posisi tangan "tasybik" gitu tuh ternyata enak lho, wkwkwk.. kadang tanpa sadar aku suka ngambil posisi kayak gitu, tapi alhamdulilah cepet sadar kok..
Di luar waktu-waktu ibadah utama di atas, seperti saat ngobrol biasa atau sedang santai di rumah, gestur ini GAK APA-APA (gak dilarang secara mutlak), tapi memang lebih baik dihindari sebagai bentuk adab.
... Baca selengkapnyaJujur, sebelum belajar lebih jauh, aku juga cuma tahu sekilas kalau tasybik itu "gak boleh". Tapi ternyata setelah dibahas di kajian dan aku coba cari, penjelasannya cukup detail.
Pertama, tasybik adalah gerakan mengaitkan atau menganyam jari-jari tangan satu sama lain. Biasanya jari tangan kanan dan kiri disatukan lalu disilangkan. Secara fiqih, para ulama menjelaskan bahwa tasybik ini menjadi makruh bahkan terlarang dalam kondisi-kondisi tertentu, terutama yang berkaitan dengan shalat.
Contohnya:
- Setelah wudu dan sedang menunggu waktu shalat di masjid.
- Saat berjalan menuju masjid untuk shalat berjamaah.
- Ketika sudah berada di dalam masjid menunggu iqamah.
- Saat sedang shalat, baik berdiri, duduk di antara dua sujud, maupun setelah salam jika masih dalam rangkaian ibadah.
Kenapa tasybik dilarang atau tidak disukai dalam kondisi-kondisi itu? Dari penjelasan ustaz yang pernah aku simak, ada beberapa alasan:
1. **Meniru kebiasaan agama atau kaum lain.** Gestur tangan tertentu itu identik dengan ritual mereka, sehingga umat Islam dianjurkan menjaga ciri khas ibadahnya.
2. **Mengganggu kekhusyukan.** Mengutak-atik jari dan mengaitkannya bisa bikin kita tidak fokus, pikiran jadi kemana-mana, dan hati nggak tenang dalam ibadah.
3. **Tidak menunjukkan sikap tawadhu.** Saat shalat, posisi tubuh dan tangan seharusnya menunjukkan ketundukan dan ketenangan, bukan main-main dengan jari.
Ada hadis yang menjelaskan larangan tasybik saat menuju masjid atau ketika berada di masjid menunggu shalat. Intinya, Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk menjaga adab dan khusyuk, bahkan sejak melangkah dari rumah menuju masjid. Ini berkaitan juga dengan konsep *ittiba*, yaitu berusaha mengikuti tuntunan Rasulullah SAW dalam hal kecil maupun besar.
Kalau di luar konteks ibadah, misalnya lagi ngobrol santai, nongkrong, atau duduk di rumah, tasybik tidak sampai haram, banyak ulama menyebutnya boleh-boleh saja selama tidak ada unsur meniru ritual agama lain secara sengaja. Tapi, aku pribadi sekarang lebih milih menghindari, apalagi setelah terbiasa menjaga tangan saat shalat, rasanya jadi lebih peka kalau jari mulai saling mengait.
Supaya lebih mudah, aku punya tips kecil:
- Setelah wudu, biasakan genggam tangan biasa atau letakkan di paha/lutut kalau lagi duduk.
- Saat di masjid menunggu iqamah, pegang mushaf, tasbih, atau letakkan tangan rapi di paha, jangan sibuk dengan jari.
- Kalau berdiri setelah takbiratul ihram, fokus ke posisi tangan bersedekap yang benar, jangan sampai tasybik.
Belajar soal tasybik bikin aku sadar, kadang hal yang kelihatan sepele ternyata punya adab dan hukumnya sendiri. Bukan cuma soal "boleh atau nggak", tapi juga soal bagaimana kita menghormati ibadah dan berusaha ittiba kepada Rasulullah SAW dalam setiap gerakan.
kadang gak sadar, gak sengaja🥺