Dosa Jariyah yang Sering Kita Sepelekan
Kenapa ini bahaya banget?
Karena kalau orang lain ikut berdosa gara-gara kita, dosanya juga mengalir ke kita tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.
"Barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka."
(HR. Muslim No. 2674)
Tenang, belum terlambat buat mutus rantainya! Yuk, mulai dari:
• Hapus Pengaruhnya: Kalau pernah posting sesuatu yang buruk dan masih ada, segera hapus sebelum makin luas.
• Minta Maaf & Klarifikasi: Akui kalau itu salah ke orang yang terlanjur kita beri contoh buruk.
• Ganti dengan Kebaikan: Perbanyak sharing hal bermanfaat. Biar yang mengalir nanti bukan dosa, tapi pahala jariyah!
Pernah nggak kepikiran, kita udah tidur tenang, tapi dosa kita malah jalan terus?
Itulah yang namanya Dosa Jariyah
Yuk, sama-sama kita bersihin lagi track record digital dan lingkungan kita. Mumpung masih ada waktu buat memperbaiki diri. Semangat jadi versi yang lebih baik karena Allah!
#Hello2026 #GoodBye2025 #PengalamanKu #TipsLemon8 #religiousbelief Lemon8_ID Lemon8 Family ✨ Lemon8IRT
Jujur, aku dulu cuma tahu soal pahala jariyah, tapi kurang ngeh kalau dosa jariyah itu ngeri banget, apalagi di era digital. Setelah baca dan cari tahu, ternyata banyak banget contoh dosa jariyah yang tanpa sadar bisa kita lakukan sehari-hari. Berikut beberapa macam dosa jariyah yang sering terjadi, terutama di dunia online: 1. Menyebarkan konten maksiat Misalnya share video atau gambar yang mengundang syahwat, gosip selebriti yang buka aib, atau konten yang jelas-jelas melanggar syariat. Setiap orang yang nonton dan ikut berdosa, dosanya bisa mengalir ke kita juga. 2. Mengajarkan kebiasaan buruk Contoh: ngajarin orang buat bohong kecil, tipu-tipu diskon, atau cara curang di kerjaan/sekolah. Awalnya cuma bercanda, padahal kalau dia terus mengamalkan, kita kena jariyah dosa dari kebiasaan itu. 3. Membuat konten yang mengajak lalai Misalnya konten yang meremehkan shalat, menormalisasi pacaran bebas, atau meledek orang yang taat. Kalau banyak yang terpengaruh, efeknya bisa panjang. 4. Menjadi sumber fitnah dan hoaks Sering banget kita asal forward chat atau posting berita tanpa cek kebenaran. Kalau itu ternyata hoaks dan bikin orang lain suudzon atau benci seseorang, dosanya ikut mengalir ke kita. 5. Mengabadikan keburukan di jejak digital Foto, caption, atau story lama yang isinya maksiat, hinaan, atau candaan yang melecehkan agama. Walau kita sudah tobat, kalau belum dihapus dan orang masih lihat serta tiru, rantai dosanya masih jalan. 6. Memberi contoh gaya hidup hedon yang berlebihan Kadang kita pamer harta, gaya hidup, dan mengajak orang ikut-ikutan boros, padahal bisa memicu iri, dengki, dan menjauhkan mereka dari sikap qanaah. 7. Mempromosikan tempat atau acara maksiat Misalnya sengaja mengajak orang ke club, konser yang jelas bercampur maksiat, atau kegiatan yang menjauhkan dari ketaatan. Setiap orang yang hadir dan ikut maksiat, bisa jadi jariyah dosa buat kita. 8. Mengelola komunitas yang mengarah pada keburukan Group chat atau komunitas yang isinya gibah, body shaming, atau sharing hal-hal yang nggak bermanfaat bahkan melanggar. Admin dan penggeraknya punya tanggung jawab besar. 9. Menulis atau membuat karya yang menyesatkan Buku, tulisan, atau konten yang memelintir ajaran agama, mengajak pada kesesatan, atau menormalisasi yang haram. Selama karya itu dibaca dan diikuti, efek dosanya panjang. 10. Menyepelekan nasihat dan malah mengajak orang tetap dalam dosa Kadang ada teman yang sudah mengingatkan, tapi kita malah balas dengan kalimat yang meremehkan dosa: “Sudah biasa”, “Yang penting hati baik”, dan sebagainya. Kalau orang jadi tambah santai berbuat salah, itu juga bisa termasuk dosanya mengalir. Setelah merenung, aku bikin semacam "HATI-HATI DI 2026! Checklist: Apakah kita sedang menabung dosa?" khusus buat diri sendiri. Isinya: - Sudah cek dan hapus konten lama yang buruk? - Masih suka share hal nggak jelas manfaatnya? - Lebih sering posting yang bikin orang lalai atau yang mengingatkan? Pelan-pelan aku mulai bersihin track record digital: hapus postingan lama yang nggak pantas, berhenti follow akun yang bikin lalai, dan niatkan medsos jadi ladang pahala jariyah. Rasanya lega, karena minimal kita berusaha memutus rantai dosa dan menggantinya dengan kebaikan. Kalau kamu merasa pernah terlanjur, jangan putus asa. Selama masih hidup, selalu ada kesempatan untuk taubat, klarifikasi, dan mengganti jejak buruk dengan konten yang bermanfaat. Semoga ke depan yang kita "tabung" di dunia digital adalah pahala, bukan dosa jariyah.

Ini yang paling sangat di takutkan kita kak hiks