Setelah masuk reading slump untuk waktu yang sangat lama😭. Burn out yang entah karena apa HUHU. Tetiba mood membaik dan langsung membaca 2 buku sekaligus.
Kali ini menelisik karya mbak Ratri Ninditya. Dengan judul Rusunothing (buku puisi) dan Hantu Ulang Alik (kumcer).
Nggak nyangka bisa kelar dalam beberapa jam (dibaca sambil bekerja, karena kalo di rumah udah sibuk kerjaan lainnya😝). Cocok dibaca di cuaca hujan gerimis tipis, sambil menikmati hidup yang meski gini-gini aja, tapi tetep kudu syukur.
Buat kamu yang lagi cari bacaan ringan meski nggak santai banget, dan random pula. Cocoklah buku ini🪐
Selamat memasuki dunia imajinasi orang dewasa di segala usia.
Blurb Rusunothing:
Wangi mentega terbakar di tengah malam
Pulang kantor lebih awal
Memikirkan apakah aku
Pernah menyelamatkan diriku sendiri atau tidak
Blurb Hantu Ulang Alik:
Seorang perempuan hanya ingin memasak mie instan tanpa gangguan. Pekerja restoran yang kurang apresiasi menemukan cara untuk balas dendam. Duka seorang ibu menenggelamkannya perlahan ke dalam paranoia. Mantan sahabatmu yang meninggalkan mewariskan barang bekas.
Setiap karakter menjadi terasing di dunianya sendiri, berulang-alik dalam perjalanan mereka mencari kebahagiaan yang begitu langka di tengah dunia yang hampir kiamat.
2025/11/21 Diedit ke
... Baca selengkapnyaPas lagi browsing buku, aku pertama kali tertarik sama nama Ratri Ninditya karena banyak yang nyebut tulisannya kayak puisi random tapi kok bisa ngena banget. Akhirnya aku coba baca dua judul sekaligus: buku puisi "Rusunothing" dan kumpulan cerpen "Hantu Ulang Alik". Ternyata memang dua-duanya punya vibe yang mirip: sederhana, acak, tapi diam-diam nyelekit.
Buat kamu yang lagi cari rekomendasi puisi random, "Rusunothing" ini bisa jadi opsi manis. Halamannya cuma 79, jadi nggak bikin kejar setoran. Puisi-puisinya pendek, pakai bahasa sehari-hari, tapi di balik kata-katanya ada rasa capek, hampa, tapi juga keinginan buat tetap bertahan hidup. Rasanya kayak lagi baca curhatan seseorang yang nggak berani diomongin keras-keras. Puisi pembukanya aja udah bikin mikir soal "pernah nggak sih kita nyelametin diri sendiri?" dan dari situ aku mulai pelan-pelan merasa ditemani.
Yang bikin seru, bentuk puisinya nggak kaku. Ada yang kelihatan rapi, ada yang kerasa benar-benar seperti catatan di kertas, random tapi jujur. Buat yang belum terlalu terbiasa baca puisi, gaya seperti ini malah cenderung lebih ramah. Kamu bisa baca satu-dua puisi di sela kerja, di halte, atau sebelum tidur, dan tetap kerasa "dapet sesuatu" meski cuma beberapa menit.
Sementara itu, "Hantu Ulang Alik" berisi 13 cerita pendek dengan 173 halaman yang menurutku cocok buat kamu yang pengin baca fiksi singkat tapi tetap berbekas. Ceritanya nggak serem dalam arti hantu lompat-lompat, tapi lebih ke "hantu" dalam bentuk rasa bersalah, kenangan, kehilangan, dan hal-hal kecil yang diam-diam menghantui hidup kita. Tokoh-tokohnya terasa dekat: perempuan yang cuma mau masak mie instan, pekerja restoran yang nggak dihargai, seorang ibu yang larut dalam duka. Semua terasa seperti orang yang mungkin pernah kita temui, atau bahkan kita sendiri.
Kerasa banget kalau dunia di cerpen-cerpen ini suram, hampir kiamat, tapi justru di situ letak daya tariknya. Aku suka bagaimana setiap karakter terasa terasing di dunianya sendiri, berulang-alik antara masa lalu dan masa kini. Kalau kamu lagi di fase hidup yang rasanya absurd dan capek, kisah-kisah ini bisa jadi cermin kecil buat memahami perasaan sendiri.
Buat yang lagi burn out dan reading slump, kombinasi "Rusunothing" dan "Hantu Ulang Alik" menurutku pas: nggak terlalu berat secara jumlah halaman, tapi isi emosinya kaya. Bisa dibaca pelan-pelan, nggak harus khatam dalam sehari. Cukup selipkan di tas, bawa ke kafe, atau baca pas hujan gerimis dengan secangkir minuman hangat.
Kalau kamu tertarik sama sastra Indonesia kontemporer, terutama yang bentuknya puisi random dan kumcer tentang keseharian orang dewasa, karya-karya Ratri Ninditya ini layak banget dicoba. Siapa tahu, seperti aku, kamu bisa pelan-pelan keluar dari reading slump lewat buku-buku tipis yang quietly powerful kayak gini.