Gotong Royong Membangun Desa; wujud nyata kerja ko
2025/11/17 Diedit ke
... Baca selengkapnyaKalau lihat gambar sekelompok warga desa lagi gotong royong di tanah lapang, jujur aku langsung keingat suasana Minggu pagi di kampung. Biasanya kami kumpul dari berbagai latar belakang, ada yang tua, muda, beda suku, beda pekerjaan, tapi kalau sudah urusan kerja bakti, semua turun tangan. Ada yang mencabut rumput, ada yang nyapu, ada yang ngangkut sampah, bahkan ada yang bakar daun kering (meski sekarang pelan-pelan mulai dikurangi dan dialihkan ke kompos supaya lebih ramah lingkungan).
Menurutku, gotong royong ini bukan cuma soal kerja bareng, tapi juga wujud nyata nilai Pancasila. Misalnya, saat warga ramai-ramai mengumpulkan sampah plastik di lingkungan, lalu dipilah mana yang bisa didaur ulang, itu sudah menunjukkan kepedulian terhadap kemanusiaan dan lingkungan. Bukan bikin kebijakan yang menguntungkan sebagian orang saja, tapi semua ikut merasakan manfaatnya karena kampung jadi lebih bersih dan sehat.
Di desa, kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan sering jadi contoh konkret bagaimana prinsip gotong royong menciptakan harmoni. Pekerjaan berat seperti meratakan tanah lapang, memperbaiki selokan, sampai menata fasilitas umum, jadi terasa ringan karena dikerjakan bersama-sama. Tanpa memandang perbedaan suku, agama, atau status sosial, semua berdiri sejajar, saling sapa, saling bantu. Di situ rasa kebersamaan dan persatuan bangsa benar-benar kerasa, seolah memperkukuh persatuan dan kesatuan dalam bentuk yang sederhana tapi nyata.
Dalam konteks masalah lingkungan yang makin serius, terutama sampah plastik yang meningkat di Indonesia, gotong royong bisa jadi solusi praktis. Misalnya, warga sepakat satu hari dalam sebulan untuk bergotong royong mengumpulkan sampah di lingkungan, lalu mengolah dan mendaur ulang sebisanya. Ada yang bertugas mengumpulkan, ada yang memilah, ada yang mengedukasi anak-anak tentang pentingnya tidak membuang sampah sembarangan. Setiap orang dapat tugas sesuai kemampuan, sehingga semua merasa berkontribusi.
Di sekolah pun sebenarnya gotong royong bisa dilatih sejak dini. Kegiatan bergotong royong membersihkan lingkungan sekolah, seperti menyapu kelas, menata taman, atau kerja bakti di halaman, bisa jadi latihan kecil yang menanamkan nilai Pancasila. Anak-anak jadi terbiasa bekerja sama, tidak egois, dan peduli pada lingkungan. Bahkan lewat tugas mewarnai gambar gotong royong di sekolah atau di rumah, guru bisa menjelaskan makna kerjasama dan solidaritas sosial ala Indonesia.
Buatku, salah satu manfaat terbesar gotong royong adalah menguatkan hubungan antarwarga. Saat sering ketemu di kegiatan kerja bakti, obrolan mengalir, masalah kecil bisa diselesaikan dengan musyawarah, dan rasa saling percaya tumbuh. Jadi, foto atau gambar orang gotong royong itu bukan sekadar ilustrasi, tapi pengingat bahwa budaya ini adalah ciri khas bangsa Indonesia yang perlu terus dijaga, terutama di tengah tantangan lingkungan dan sosial yang makin kompleks.