Tidak Semua Anak Berani Berkata "Aku Kesepian"
Untuk Anak Kecil yang Masih Tinggal di Dalam Diriku
Ada satu hal yang baru kusadari setelah dewasa.
Ternyata seorang anak tidak selalu menangis karena tidak diberi mainan.
Kadang ia menangis karena merasa tidak menjadi prioritas.
Aku pernah menjadi anak itu.
Anak yang terbiasa mengerti keadaan.
Anak yang tidak banyak meminta.
Anak yang belajar menenangkan dirinya sendiri karena tidak ingin menjadi beban.
Lama-kelamaan aku tumbuh menjadi orang yang selalu merasa harus kuat.
Harus bisa sendiri.
Harus memahami semua orang.
Sampai akhirnya aku lupa bertanya pada diriku sendiri,
"Kalau aku terus memahami semua orang, siapa yang akan memahami aku?"
Mungkin itulah alasan mengapa sampai hari ini aku masih sering mencari validasi.
Masih berharap dipilih.
Masih berharap dianggap penting.
Masih berharap ada yang berkata,
"Aku melihat perjuanganmu."
Hari ini aku menjadi seorang ibu.
Dan untuk pertama kalinya aku benar-benar takut.
Takut jika tanpa sadar aku memberikan rasa yang sama kepada anak-anakku.
Bukan karena aku tidak mencintai mereka.
Justru karena aku terlalu lama hidup dalam mode bertahan.
Aku sibuk mencari sesuatu yang hilang di masa lalu, sampai hampir lupa bahwa ada mata-mata kecil yang setiap hari mencari kehadiranku.
Aku tidak ingin mereka tumbuh dengan pertanyaan yang dulu terus menghantuiku:
"Apakah aku cukup penting?"
Aku ingin mereka tahu, bahkan di hari-hari ketika aku lelah, ketika hidup terasa berat, ketika aku belum menjadi ibu yang sempurna...
Mereka tetap menjadi rumah yang selalu ingin kutuju.
Mungkin aku tidak bisa mengubah masa kecilku.
Mungkin aku juga tidak bisa mengubah keputusan orang tuaku.
Tetapi aku masih bisa memilih bagaimana anak-anakku akan mengingat masa kecil mereka.
Dan hari ini...
Aku memilih berhenti hidup hanya untuk bertahan.
Aku ingin mulai belajar hidup untuk hadir.
Kalau suatu hari papa dan mama membaca tulisan ini, ketahuilah...
Aku tidak sedang mencari siapa yang salah.
Aku hanya ingin kalian tahu bahwa ada seorang anak kecil yang pernah sangat ingin merasa dipilih.
Anak kecil itu adalah aku.
Dan sekarang, aku sedang belajar agar anak-anakku tidak perlu menunggu selama yang pernah aku tunggu.









































