alasan mau nikah sama dia..
nikah emg harus dengan alasan bukaan ???#MaluGak #CurcolanHati #DAILY #CurcolanHati #fypã‚·
Kalau ngomongin alasan menikah, jujur aja dulu aku pernah mikir sesimpel, "biar nggak sendiri lagi" atau karena udah capek ditanya keluarga. Tapi setelah proses yang lumayan panjang, ternyata alasan menikah nggak bisa cuma yang lucu-lucu kayak di meme, misalnya karena sering diajak ke Tanah Abang atau karena suka dibeliin kopi hitam. Itu seru buat dijadiin bahan bercandaan, tapi buat benar-benar mantap ke pelaminan, aku akhirnya bikin semacam daftar alasan yang bikin aku yakin. Pertama, aku lihat bagaimana dia bersikap di keseharian, bukan cuma pas lagi sayang-sayangnya. Cara dia marah, cara dia nanggepin masalah, sampai hal simpel kayak gimana dia menghargai orang tua dan pelayan di warung kopi. Dari situ kelihatan banget apakah dia tipe orang yang bisa diajak kerja sama untuk hidup bareng atau cuma cocok diajak senang-senang. Kedua, kami lumayan sering ngobrol serius soal visi hidup. Nggak harus pakai istilah berat, sih, tapi sesimpel nanya, "Kalau nikah nanti, kamu maunya tinggal di mana?", "Pengin punya anak berapa?", "Soal keuangan, kamu tipe yang nabung atau yang gaspol?" Dari obrolan beginian aku jadi tahu apakah jalan pikirannya searah sama aku atau nggak. Buatku, ini salah satu alasan penting buat menikah: punya partner yang sefrekuensi soal hal-hal besar. Ketiga, aku belajar bedain antara nyaman karena terbiasa dan nyaman karena memang saling tumbuh. Ada fase di mana aku ngerasa mau menikah cuma karena sudah lama bareng, takut mulai dari nol lagi. Tapi lama-lama aku sadar, alasan menikah nggak boleh hanya karena takut sendirian. Harus ada rasa saling dukung, saling dorong jadi versi terbaik diri sendiri. Misalnya, waktu aku down, dia bukan cuma bilang sabar, tapi benar-benar bantu cari solusi, entah itu nemenin sampai malam atau sekadar ngajak ngopi sambil diskusi pelan-pelan. Keempat, aku juga menilai bagaimana kami menyelesaikan konflik. Kalau setiap berantem ujung-ujungnya menghilang atau main blokir, aku tahu itu bakal jadi bom waktu setelah menikah. Tapi setelah beberapa kali beda pendapat dan bisa balik ngobrol lagi, minta maaf, bahkan ngetawain masalah itu sambil ngopi hitam, dari situ aku mulai punya keyakinan, "Oke, dia bukan cuma pasangan buat hari ini, tapi mungkin bisa jadi teman hidup jangka panjang." Intinya, alasan menikah sama dia buatku sekarang bukan sekadar karena sayang atau takut kehilangan. Lebih ke kombinasi rasa nyaman, komunikasi yang enak, cara dia menghargai aku dan orang-orang di sekelilingku, plus kesiapan buat sama-sama susah. Jadi kalau kamu lagi nyari-nyari alasan menikah, nggak apa-apa kok mulai dari hal remeh: siapa yang nemenin kamu ngopi, siapa yang mau diajak ke Tanah Abang tanpa ngeluh. Dari hal-hal kecil itu, pelan-pelan kamu bakal nemu alasan yang lebih dalam dan bikin kamu berani bilang, "Ya, aku mau nikah sama dia."
