WAHABI RUSUH😄

6/20 Diedit ke

... Baca selengkapnyaPengalaman pribadi saya selama berinteraksi dengan komunitas yang mengidentifikasi sebagai Wahabi dan Salafi menunjukkan betapa besar perbedaan pendapat yang sering kali berujung pada ketegangan sosial. Saya pernah menyaksikan secara langsung bagaimana perbedaan caranya seseorang dalam melaksanakan salat, seperti durasi takbiratul Ihram atau gerakan sujud, menjadi bahan kritik tajam dari mereka yang merasa cara tersebut kurang sesuai dengan ajaran mereka. Situasi ini bukan hanya terjadi di ranah online melalui komentar dan postingan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari yang bisa membuat hubungan antar sesama muslim menjadi renggang. Hal ini menunjukkan sebuah ironi, di mana sesama umat yang seharusnya saling mendukung dalam kebaikan justru terjebak dalam perbedaan formalistik yang mestinya bisa disikapi dengan lebih toleran. Selain itu, saya melihat adanya kecenderungan dari sebagian komunitas tersebut untuk sangat kritis terhadap penguasa dan pemerintah. Bahkan kritik yang konstruktif, seperti bentuk muhasabah, seringkali dianggap sebagai tindakan yang tidak menghormati. Padahal, dalam Islam terdapat prinsip penting tentang amar ma’ruf nahi munkar yang termasuk menyampaikan koreksi ketika diperlukan. Fenomena ini memicu perbincangan yang lebih luas tentang bagaimana setiap umat muslim dapat menjaga ukhuwah dan mengedepankan persatuan tanpa kehilangan identitas keagamaan masing-masing. Berbagai perbedaan dalam fiqih dan praktik ibadah sebenarnya sudah ada sejak zaman para imam mazhab terdahulu dan menjadi bagian dari kekayaan Islam. Oleh karena itu, pengalaman ini mengajarkan saya pentingnya sikap saling menghormati dan memahami bahwa perbedaan tidak selalu berarti permusuhan. Sikap moderasi dan toleransi menjadi kunci agar umat muslim dapat hidup berdampingan dengan damai, serta fokus pada tujuan utama yaitu meningkatkan ketakwaan dan kebaikan secara bersama-sama.