yup seandainya aku gak resign 6 tahun lalu. Aku pasti masih jadi orang semarang yang setiap hari berangkat kerja pagi, pulang sore menjelang maghrib. Menghabiskan separuh hari di sekolah. Setiap hari berhadapan dengan kemacetan, belum lagi saat musim hujan. Hampir setiap turun hujan jalan2 akan banjir dan membuat tingkat kemacetan jadi 2x lipat parahnya. dan terpenting aku akan kehilangan momen2 istimewa perkembangan anak anakku.
Alhamdulillah aku bersyukur saat itu aku resign dan pulang ke desa kelahiranku. Aku akui tidak mudah merubah keadaan dari yang biasa di kota besar kemudian pindah ke desa yang lumayan jauh dari keramaian. Pastinya masih meraba2 bingung harus gimana, apalagi dulu masih punya baby. Dan dan punya perjanjian sama suami gak boleh kerja diluar dulu, kalau mau kegiatan ya yang dirumah.
Karena dari muda suka kerja jadi aku tetap cari kerjaan yang bisa aku kerjain dari rumah. Mulai dari jualan baju keliling, jualan di car freeday, bahkan jualan pop ice di depan rumah. Semua aku coba tapi belum ada yang berhasil.
Sampai akhirnya justru saat pandemi, Alloh kasih jalan dengan buka bimbel baca. Saat itu semua sekolah dan keramaian di larang. Anak2 makin gak pernah belajar dan gak bisa baca. Menjembatani itu alhamdulillah bimbelku bisa jadi solusi. Dan bisa bertahan sampai sekarang. Yang tadinya sendiri sekarang ada 9 teman yang nemenin.
Alhamdulillah aku bersyukur jadi resign saat itu. Dan menerima semua takdirku sekarang dan yang akan datang. Ternyata berdamai dengan keadaan membuat kita ringan menghadapi segala ujian.
... Baca selengkapnyaSeandainya seseorang menghadapi dilema antara karier di kota besar dan kehidupan di desa, kisah ini memberikan gambaran nyata bagaimana keberanian mengambil keputusan besar dapat membentuk masa depan yang lebih bermakna. Tinggal di Semarang, menghadapi kemacetan parah khususnya saat musim hujan dan banjir, tentu melelahkan serta menyita waktu berharga bersama keluarga, terutama anak-anak.
Memilih resign bukan hanya soal meninggalkan pekerjaan rutin, tapi juga tentang mencari kualitas hidup yang lebih baik. Pindah ke desa bukan berarti mundur, melainkan mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan tantangan yang berbeda. Dari pengalaman berjualan keliling, ikut car freeday, hingga menjual pop ice di depan rumah, semuanya adalah upaya nyata beradaptasi dan mencari celah peluang.
Masa pandemi membuka kesempatan yang tak terduga. Dengan segala pembatasan dan aturan yang melarang keramaian, banyak anak sulit belajar membaca. Di sinilah bimbel baca menjadi solusi tepat. Tak hanya membantu anak-anak desa agar tidak tertinggal dalam belajar, bimbel ini juga menjalin kebersamaan bersama 9 teman yang ikut mendampingi, menumbuhkan semangat komunitas dan kolaborasi.
Kata "seandainya" mengingatkan kita untuk selalu bersyukur pada setiap keputusan dan takdir yang telah dijalani. Berserah diri dan berdamai dengan keadaan justru menjadikan diri lebih kuat menghadapi ujian hidup. Kisah ini mengajak pembaca untuk menilai ulang arti keberanian berubah, menyambut masa depan dengan optimisme, dan pentingnya mendukung pendidikan anak-anak dalam kondisi apapun.
Dengan begitu, meskipun pernah merasa berat meninggalkan kota, saat ini keberadaan di desa dengan usaha bimbel baca membawa dampak positif yang besar. Pengalaman ini juga dapat menginspirasi siapa saja yang tengah bergulat dengan pilihan sulit dalam hidupnya, bahwa setiap langkah penuh risiko bisa menjadi jalan keberhasilan jika dijalani dengan ketulusan dan kerja keras.