... Baca selengkapnyaJadi ceritanya, aku tuh baru ngeh kalau dulu pernah beli novel Berandal Bandung pas lagi bersih-bersih galeri pesanan di e-commerce. Tiba-tiba muncul riwayat pesanan dengan cover yang familiar, dan aku cuma bisa ngelus dada, “Serius dulu aku pernah beli buku ini?” Momen itu mirip banget kayak tulisan di foto-foto: lupa makan, lupa minum, sampai lupa kalau dulu pernah beli novel.
Waktu paket Berandal Bandung pertama kali datang, rasanya excited karena latarnya di kota Bandung yang identik sama suasana dingin, kopi hitam, dan gang-gang kecil yang penuh cerita. Aku suka novel yang nuansanya realistis, agak berandal tapi masih relate sama kehidupan sehari-hari. Karakter-karakternya juga terasa dekat, kayak orang-orang yang bisa aja kita temui di warung kopi atau jalanan kota.
Awal baca, aku sempat ngerasa ceritanya enak diikutin, terutama kalau kamu suka nuansa urban, sedikit gelap tapi tetap manusiawi. Konflik di dalamnya nggak melulu hitam-putih; ada sisi rapuh dari tokoh-tokohnya yang bikin kita mikir, "Oh, ternyata orang berandal juga punya cerita dan alasan kenapa mereka bisa jadi begitu." Buat yang suka novel dengan setting lokal kuat, Berandal Bandung ini lumayan berkesan.
Sayangnya, saking seringnya pindah buku dan beli bacaan lain—kayak 3726 MDPL, MANUSIA DAN LANGIT, MUHAMMAD AL-FATIH #2, sampai PRONOUN—novel Berandal Bandung kebawa tenggelam di rak. Aku tipe yang gampang kalap kalau lihat buku diskon, ujung-ujungnya banyak judul yang numpuk dan malah terlupakan. Baru setelah lihat lagi tumpukan buku dan merchandise bertema 3726 MDPL & Puncak Rinjani, aku keinget masa-masa rajin baca dan betah berjam-jam ditemani kopi dingin.
Kalau kamu lagi cari referensi sebelum beli novel Berandal Bandung, menurutku buku ini cocok buat yang suka:
- Latar Indonesia, khususnya suasana Bandung yang kerasa hidup.
- Karakter abu-abu, bukan tokoh utama yang selalu baik atau selalu jahat.
- Cerita dengan nuansa “jalanan” tapi tetap punya sisi emosional dan reflektif.
Tips dari aku biar nggak "lupa kalau dulu pernah beli buku novel" lagi: coba bikin daftar bacaan atau susun rak khusus untuk buku-buku yang belum selesai dibaca. Bisa juga tempel note kecil di rak: mana yang sudah tamat, mana yang masih antri. Sekarang aku lagi niat buat re-read Berandal Bandung sambil ditemani kopi hitam dingin, mumpung lagi mood nostalgia dan pengen balikin memori baca yang dulu pernah bikin aku betah diem di kamar berjam-jam.
Intinya, novel Berandal Bandung buat aku jadi semacam pengingat kecil: bukan cuma soal cerita di dalam bukunya, tapi juga soal versi diriku di masa lalu yang rajin beli buku, rajin baca, dan punya banyak memori dengan tokoh-tokoh fiksi yang pernah aku sayangin.