Suara dari Ponsel

Malam itu, aku terbangun dengan jantung berdebar kencang.

Keringat dingin membasahi seluruh tub uh. Sprei di bawahku terasa lem bap. Kamar gel ap gulita, hanya ada suara jam dinding yang berdetak pelan. Detak. Detak. Detak. Berulang, seperti palu kecil yang mem ukul-mu kul kep alaku.

Aku mencoba mengatur napas. Tarik. Keluarkan. Tarik. Keluarkan. Tapi da daku masih se sak. Rasa takut itu masih melekat erat, seperti second skin yang tidak bisa dilepas.

Mimpi apa tadi?

Aku mencoba mengingat. Samar-samar, ada bayangan perempuan berbaju putih. Rambutnya panjang, basah, meneteskan air ke lantai. Wa jahnya... aku tidak bisa melihat waj ahnya. Tapi dia mendekat. Perlahan. Terus mendekat.

Lalu aku terbangun.

"Mimpi bu ruk aja," bisikku pada diri sendiri. "Cuma mimpi bur uk."

Kulihat jam di dinding. Pukul 02.17 dini hari. Masih terlalu pagi untuk bangun. Tapi aku tahu, aku tidak akan bisa tidur lagi. Malam-malam seperti ini, setelah mimpi buruk, biasanya aku akan gelisah sampai subuh.

Suara Andri di sampingku terdengar tenang. Dia tidur nyenyak dengan na pas teratur. Tangannya masih melingkar di pingg angku, hangat dan akrab. Andri—suamiku. Sudah lima tahun kami menikah, dan dia selalu bisa tidur pulas dalam situasi apa pun.

Aku iri padanya.

Perlahan, aku lepaskan tangannya. Aku duduk di tepi tempat tidur, mera ba-ra ba sandal di kege lapan. Kakiku menemukan sandal jepit itu. Aku pakai, lalu berjalan pelan keluar ka mar.

Ruang tengah terasa lebih dingin. AC di ruangan ini memang selalu aku nyalakan sejak sore. Mataku mulai terbiasa dengan ge lap. Samar-samar kulihat sofa, meja, dan TV yang ma ti.

Aku duduk di sofa, memeluk lutut. Pikiranku masih kac au. Mimpi itu... terasa begitu nyata. Aroma perempuan itu, aroma an yir seperti air got, masih terasa di hidungku. Aku geleng-geleng kepala, mencoba menghilangkannya.

Lama aku duduk begitu. Hanya memandang ke luar jendela, melihat lampu jalan yang temaram. Kadang ada mobil lewat,

Setengah jam mungkin sudah kulalui di sofa. Rasa kantuk mulai datang lagi. Mataku berat. Aku berbaring di sofa, memeluk bantal, berharap bisa tidur sampai pagi tanpa mimpi lagi.

Tepat saat mataku hampir terpejam, ponsel di meja bergetar.

Getarannya keras di atas meja kayu. Bzzzt... bzzzt... bzzzt...

Aku kaget. Langsung duduk. Ponsel itu masih bergetar, layarnya menyala terang di kegelapan. Aku meraihnya. Itu ponsel pribadiku, yang nomornya jarang kusebarkan.

Sebuah notifikasi. Dari grup Whatsap

Aku buka grup itu.

Ada satu pesan suara. Durasi 47 detik. Dikirim oleh Bu Hesti, teta ngga dua rumah dariku. Ibu dua an ak yang biasa tersenyum ramah kalau berpapasan. Aneh. Bu Hesti jam segini kirim pesan suara?

Tanpa pikir panjang, aku pencet pesan itu.

Aku dekatkan ponsel ke telinga.

Lalu aku mendengarnya.

Suara itu.

Bukan suara Bu Hesti yang lembut dan ramah seperti biasanya. Ini suara lain. Suara yang membuat jant ungku langsung berhenti berdetak sedetik.

Suara seorang perempuan. Tapi parau. Se rak. Seperti habis berte riak ke ras, atau seperti orang yang baru saja teng gelam dan berhasil naik ke permukaan.

Napasnya tersengal. Tersedu-sedu. Lalu dia bicara.

"Tolong... tolong aku..." Suaranya putus-putus, seperti sambungan telepon yang buruk. "Baru saja... baru saja terjadi... di sini... di perumahan kita..."

Aku pegang ponselku erat-erat. Tanganku mulai gem etar.

"Dia... dia bawa anak kecil... anak Bu RT... Dian... Dian kecil yang sering main bola di lapangan... Dia dibawa... dibawa pak sa..."

Napasku tersengal. Ikut-ikutan se sak.

"Pelakunya... pelakunya pakai kemeja putih... lengan digulung... naik motor beat hitam... plat nomornya... plat nomornya B 1234 XY... aku lihat... aku lihat sendiri..."

Suaranya pe cah. Isak tangis terdengar ke ras.

"Dia... dia lihat aku... dia lihat aku tahu... dia akan kembali... dia akan kembali untukku..."

Pesan itu pu tus.

Gelap. Sunyi.

Aku diam.

Diam membeku di sofa dengan ponsel masih menempel di telinga.

Penulis : Rianita Sakura

Judul: Tanda Silang Me rah

Kelanjutan Hanya ada di KBM

3/30 Diedit ke

... Baca selengkapnyaPada suatu malam yang sunyi, saya pernah mengalami situasi yang sangat menegangkan seperti yang diceritakan dalam kisah ini. Ketika suara ponsel bergetar di tengah kegelapan, sebuah pesan suara yang tak terduga bisa begitu membekukan darah saya. Pesan yang berisi suara seseorang dalam kondisi panik dan mengancam ini membuat saya menyadari betapa rapuhnya rasa aman dalam kehidupan sehari-hari, bahkan di lingkungan yang kita anggap nyaman. Pengalaman menghadapi ketakutan yang tidak terduga ini mengajarkan saya pentingnya kewaspadaan meski berada di lingkungan yang dikenal. Suara perempuan dengan napas tersengal dan isak tangis yang terdengar jelas melalui pesan suara itu menciptakan suasana yang mencekam dan mengingatkan kita akan potensi bahaya yang bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Selain itu, ada pelajaran berharga tentang komunitas dan komunikasi. Pesan dari Bu Hesti yang biasanya ramah berubah menjadi sebuah sinyal bahaya, memperlihatkan bahwa kita harus selalu peka terhadap perubahan di sekitar kita dan tidak mengabaikan peringatan, sekecil apapun itu. Berada dalam grup WhatsApp RT memang bisa sangat membantu dalam hal koordinasi dan saling menjaga keamanan lingkungan. Saya juga menyadari bagaimana mimpi buruk dan ketakutan bisa sangat nyata terasa hingga mempengaruhi keadaan fisik kita seperti sesak napas dan jantung berdebar kencang. Ini mengajak kita untuk tidak menyepelekan kondisi psikologis kita, terutama ketika mendengar cerita atau kejadian yang menyentuh hal-hal mistis atau kriminal. Cerita ini mengingatkan kita bahwa dalam hidup sehari-hari, kita harus selalu waspada dan menjaga komunikasi yang baik dengan tetangga serta pihak berwajib. Jika terjadi sesuatu yang mencurigakan seperti yang didengar dalam pesan suara tersebut, segera bertindak dan melaporkan adalah hal yang bijaksana untuk menjaga keselamatan diri dan orang-orang sekitar. Akhirnya, kisah ini tidak hanya sebuah cerita misteri, tapi juga sebuah pengingat bahwa keamanan dan kedamaian tidak bisa dianggap remeh. Mari kita manfaatkan teknologi komunikasi sebaik mungkin sebagai alat untuk saling mengingatkan dan menjaga. Keberadaan pesan suara seperti ini membuat saya lebih menghargai setiap detik rasa aman yang kita miliki dan mengajak semua pembaca untuk tetap waspada dan peduli terhadap lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Cari ·
rasio gear pcx 150