Ini pengalamanku saat kerja dulu, saat itu ada acara Family Gathering kantor di sebuah Hotel berbintang yang diadakan tepat di akhir bulan oktober. Awalnya aku tidak tau runtutan acaranya seperti apa, jadi aku hanya disuruh membawa baju bebas pantas dan dresscode hitam untuk acara puncak.
Singkat cerita, beberapa jam sebelum acara puncak aku dikabari panitia untuk memakai dresscode hitam tapi dengan tema makeup Hallowen (Makeup hantu2 gitulah) Aku bingung, aku gak ngerti harus gimana saat itu menghadapi #TrenVSAgama .
Aku merasa gak pantes aja ikut melakukan itu, Aku muslimah, tapi setauku Hallowen itu tidak diperbolehkan di agamaku, akhirnya aku cari2 alasan, sampai aku bilang, aku gak pandai makeup karakter2 gitu.
Tapi atasanku bersikeras harus tampil all out supaya tim kita menang. Aku Kalah suara, sampai akhirnya aku dimakeupin temanku dan yaa.. kami semua melakukan pesta Hallowen tersebut.
Jujur aku kurang nyaman, tapi apalah dayaku, aku kalah dengan lingkunganku.
Sekarang aku sadar, lingkungan itu ternyata sangat berpengaruh.
Menurut kalian gimana, apakah kalian punya pengalaman yang sama terbawa arus lingkungan yang kalian sendiri gak punya kuasa untuk menolaknya?
... Baca selengkapnyaKalau diinget lagi, momen itu bikin aku mikir panjang tentang batasan diri sebagai muslimah berhijab di lingkungan kerja modern. Di satu sisi, aku pengin dianggap kompak sama tim, di sisi lain hati nggak tenang karena harus pakai makeup hantu muka seram dan ikut perayaan yang aku sendiri ragu hukumnya.
Setelah kejadian itu, aku mulai belajar buat pasang “rem” sejak awal. Misalnya, kalau ada info gathering atau acara kantor, aku sekarang berusaha tanya dulu konsepnya apa, temanya gimana, dan apakah ada dresscode yang bikin aku kurang nyaman. Jadi bukannya baru kaget ketika H-1 dan akhirnya nggak enak menolak.
Satu hal yang aku pelajari: komunikasi pelan-pelan itu penting. Waktu ada acara lagi di kantor berikutnya, aku coba jujur ke atasan dan teman dekat, aku bilang, “Aku muslimah, kurang nyaman kalau harus pakai kostum hantu atau makeup seram. Boleh nggak aku tetap pakai warna dresscode, tapi gayanya lebih simple aja tanpa tema hantu?” Ternyata respons mereka nggak semenakutkan yang aku bayangkan, ada yang ngerti dan akhirnya kasih alternatif.
Buat yang mungkin pernah lihat konten soal hantu berjilbab atau hantu muka seram, kadang itu bikin image muslimah berhijab jadi kayak sesuatu yang menakutkan, padahal hijab itu identitas dan bentuk ketaatan. Karena itu aku berusaha banget menghindari makeup atau kostum yang bikin jilbabku jadi bagian dari karakter seram. Aku lebih milih tampil wajar, tetap sopan, dan nggak menjadikan hijab sebagai properti untuk menakut-nakuti orang.
Kalau kamu kebetulan ada di posisi yang susah nolak, mungkin bisa coba beberapa cara ini:
1. Sampaikan ketidaknyamanan dari sisi pribadi, bukan menghakimi.
Contoh: “Aku pribadi kurang nyaman ya kalau harus dandan ala hantu, boleh nggak aku tetap ikut tapi tanpa makeup seram?” Biasanya orang lebih bisa nerima kalau kita ngomong baik-baik.
2. Tawarkan solusi, bukan cuma menolak.
Misalnya tetap pakai dresscode hitam tapi dengan makeup natural, atau bantu di bagian lain seperti dekor, dokumentasi, MC, dan lain-lain. Jadi tetap berkontribusi tanpa mengorbankan prinsip.
3. Cari teman yang satu frekuensi.
Kadang ada kok rekan kerja lain yang sebenarnya juga nggak nyaman ikutan makeup hantu-hantuan, tapi nggak berani bersuara. Kalau ada partner curhat, kalian bisa sama-sama mengajukan alternatif ke panitia.
4. Kenali batas diri.
Nggak semua tren mesti diikuti. Lingkungan memang berpengaruh banget, tapi ujung-ujungnya kita yang paling tahu mana yang bikin hati tenang, mana yang justru bikin kepikiran berhari-hari.
Sekarang kalau lihat tema Halloween, hantu muka seram, atau konten hantu berjilbab, aku jadi lebih refleksi: apakah ini sekadar hiburan, atau sudah masuk ranah yang bertentangan sama keyakinanku? Dari situ aku belajar buat lebih tegas sama diri sendiri, tapi tetap santun ke orang lain.
Kalau kamu pernah ada di situasi mirip: terpaksa ikut acara kantor, tema nggak sesuai prinsip, atau malah pernah didandani jadi karakter seram padahal berhijab, boleh banget cerita. Siapa tahu dengan saling berbagi pengalaman, kita bisa sama-sama belajar cara jaga iman tanpa harus memutus hubungan baik dengan lingkungan sekitar.
lingkungan itu memang pemegang Andil terbesar untuk hidup kita ka.. tapi pastikan kita punya prinsip yang teguh untuk bisa menolak dan tak terpengaruh.
lingkungan itu memang pemegang Andil terbesar untuk hidup kita ka.. tapi pastikan kita punya prinsip yang teguh untuk bisa menolak dan tak terpengaruh.