Meski Luka Cintaku Tetap Ada
**“Ada luka yang tak pernah sembuh,
bukan karena pedihnya,
tapi karena di dalamnya
ada nama yang tak pernah kuhapus.
Aku berjalan jauh,
menyembunyikan perih di balik senyum,
namun setiap sunyi memanggil,
kutemukan dirimu
masih tinggal
di ruang terdalam hatiku.
Jika waktu ingin menghapus,
biarlah ia mencoba—
karena ada cinta
yang tetap bernapas
meski tertusuk oleh kenangan.
Dan aku,
meski terluka,
tetap menjagamu
dalam diam yang paling setia.”**
@Every @Muslim @Sufi @Melayunesia Official
Puisi ini mengingatkan saya bahwa cinta sejati tidak selalu berarti bahagia tanpa luka. Seperti dalam puisi, walaupun hati terluka, nama seseorang tetap hidup di dalamnya dan itu membawa makna tersendiri. Dari pengalaman pribadi, saya percaya bahwa merawat luka cinta bukan berarti menghapus kenangan, tapi merelakan dan menerima bahwa kenangan itu membentuk siapa kita saat ini. Cinta yang abadi seringkali tersembunyi dalam diam dan ketulusan menjaga kenangan itu dengan sepenuh hati. Kata-kata ‘meski terluka, tetap menjagamu dalam diam yang paling setia’ menguatkan saya bahwa cinta yang tulus bisa bertahan bahkan ketika perpisahan menjadi kenyataan. Ini menjadi pelajaran bahwa mencintai seseorang juga berarti menghormati dan mengikhlaskan perasaan dengan kedewasaan. Selain itu, penggunaan istilah dan simbol dari kelompok seperti @Muslim @Sufi dan tagar #sufi, #muslim, #SpiritualJourney, menunjukkan bahwa ungkapan cinta ini juga bisa menjadi bagian dari perjalanan spiritual yang mendalam bagi banyak orang. Dari sisi spiritual, menyimpan luka cinta dengan cara yang baik bisa menjadi jalan menuju kedamaian batin dan penerimaan diri. Bagi yang sedang mengalami atau pernah mengalami rasa kehilangan dalam cinta, puisi ini bisa menjadi pengingat bahwa luka bukan hal yang harus ditakuti. Sebaliknya, luka adalah bagian dari perjalanan hidup yang mengajarkan kita tentang kesetiaan, ketulusan, dan kekuatan hati untuk terus mencintai meskipun perasaan itu kadang membawa perih.




























