Meski Luka Cintaku Tetap Ada
**“Ada luka yang tak pernah sembuh,
bukan karena pedihnya,
tapi karena di dalamnya
ada nama yang tak pernah kuhapus.
Aku berjalan jauh,
menyembunyikan perih di balik senyum,
namun setiap sunyi memanggil,
kutemukan dirimu
masih tinggal
di ruang terdalam hatiku.
Jika waktu ingin menghapus,
biarlah ia mencoba—
karena ada cinta
yang tetap bernapas
meski tertusuk oleh kenangan.
Dan aku,
meski terluka,
tetap menjagamu
dalam diam yang paling setia.”**
@Every @Muslim @Sufi @Melayunesia Official
Kadang aku merasa, frase “cinta penuh luka” itu pas banget menggambarkan perjalanan hati yang sedang aku alami. Bukan luka yang kelihatan di permukaan, tapi luka halus yang diam-diam bertahan, seperti bekas sayatan yang nggak pernah benar-benar hilang. Orang lain mungkin cuma melihat senyum dan candaan, tapi di balik itu ada ruang sepi yang masih menyimpan satu nama. Aku pernah mencoba segala cara buat sembuh: menyibukkan diri, memperbanyak aktivitas, bahkan mencoba jatuh cinta lagi. Tapi ada momen-momen tertentu, misalnya saat malam sudah benar-benar sunyi, rasa itu datang lagi. Cinta penuh luka rasanya seperti napas yang tetap berjalan meski dadanya sesak. Bukan karena aku nggak mau move on, tapi karena sebagian dari diriku tetap memilih untuk menjaga kenangan itu. Yang unik, dari cinta yang penuh luka ini justru aku belajar banyak tentang diriku sendiri. Dulu aku kira cinta harus selalu terasa manis dan membahagiakan. Ternyata cinta juga bisa hadir sebagai guru; ia mengajarkan sabar, keikhlasan, sampai kemampuan untuk mencintai dalam diam. Ada kalanya aku merasa seperti berada dalam “loop” yang berulang—SUFILOOP, ILOOP, seolah-olah hatiku terus muter di lingkar cerita yang sama. Namun dari loop itu aku mulai paham, bahwa rasa sakit pelan-pelan berubah jadi penerimaan. Buat kamu yang mungkin lagi merasakan cinta penuh luka, menurutku nggak apa-apa kalau belum bisa benar-benar melupakan. Kita manusia, dan hati butuh waktu. Yang penting, jangan sampai luka itu membuatmu lupa mencintai dirimu sendiri. Pelan-pelan, belajar menata jarak, menerima bahwa tidak semua cinta harus berakhir dengan bersama. Ada cinta yang hanya dititipkan Tuhan untuk menjadi bagian dari perjalanan spiritual kita. Kalau sunyi mulai terasa menusuk, aku biasanya menulis puisi atau sekadar curhat di buku harian. Menulis membuat rasa yang semrawut jadi lebih teratur. Kadang, dengan menuliskan “meski luka, cintaku tetap ada”, aku mengakui bahwa luka itu nyata, tapi aku juga mengakui kekuatan hati yang masih sanggup mencinta tanpa harus memaksa keadaan. Mungkin inilah cara paling lembut untuk merawat cinta penuh luka: bukan dengan menghapus jejaknya, tapi dengan menerima bahwa ia pernah ada dan pernah membuat kita bertumbuh.
































