Hal Kecil Dari Anak Yang Bikin Ku Nangis Diam-diam
#RealitaDewasa Siapa bilang jadi ibu di usia matang itu makin santai? Nyatanya, makin dewasa kita, makin tipis juga dinding pertahanan hati ini. Kadang, bukan masalah besar yang bikin kita runtuh, tapi justru hal kecil dari anak yang bikin aku nangis diam-diam di pojokan kamar.
Bukan karena sedih yang menyakitkan, tapi karena sadar... mereka tumbuh terlalu cepat.
#MyJourney Punya anak laki-laki yang sudah menjelma jadi pemuda 18 tahun dan anak perempuan yang mulai beranjak remaja di usia 11 tahun itu rasanya campur aduk.
• Si Kakak (18 Tahun): Kemarin rasanya dia masih balita yang hobi lari-larian tanpa baju. Sekarang? Badannya sudah jauh lebih tinggi dari aku. Suaranya sudah nge-bass. Suatu malam, sepulang dia main, tiba-tiba dia ngetok kamar cuma buat bilang, "Bun, tadi aku beli camilan kesukaan Bunda, taruh di meja ya. Jangan lupa dimakan." Setelah itu dia masuk kamar. Sederhana banget, kan? Tapi sukses bikin aku nangis diam-diam di balik selimut. Ya ampun, anak lelaki yang dulu aku timang sekarang sudah bisa balik memperhatikan bundanya.
• Si Adik (11 Tahun): Fase pra-remaja ini lagi manis-manisnya sekaligus bikin ketar-ketir. Kemarin, waktu aku lagi capek banget habis beres-beres rumah, dia tiba-tiba datang bawa segelas air putih dan minyak angin. Tanpa diminta, dia mijitin pundakku sambil bilang, "Bunda capek ya? Biar Ade yang terusin beres-beres rumah"
Di situ rasanya dada ini sesak. Ada rasa haru yang luar biasa. Realita dewasa sebagai orang tua adalah menyadari bahwa waktu kita bersama mereka dengan status "anak-anak" itu ada masa kedaluwarsanya.
Momen-momen kecil seperti inilah yang jadi bahan bakar aku untuk terus waras dan bersyukur jadi seorang ibu. Mereka nggak butuh kita jadi ibu yang sempurna, mereka cuma butuh kita hadir. Untuk para ibu di luar sana yang mungkin hari ini lagi capek banget, peluk jauh! Kita hebat sudah bertahan sampai di titik ini. ❤️





















































