Ibu Dulu atau Istri Dulu?
1. Hadits tentang Ibu disebut 3x (paling berhak diperlakukan baik)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللّٰهِ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللّٰهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟
قَالَ: أُمُّكَ.
قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟
قَالَ: أُمُّكَ.
قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟
قَالَ: أُمُّكَ.
قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟
قَالَ: أَبُوكَ.
Artinya:
Dari Abu Hurairah r.a.: Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata,
“Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?”
Beliau menjawab, “Ibumu.”
Laki-laki itu bertanya, “Lalu siapa?”
Beliau menjawab, “Ibumu.”
Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?”
Beliau menjawab, “Ibumu.”
Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?”
Beliau menjawab, “Ayahmu.”
(HR. Bukhari no. 5971, Muslim no. 2548)
2. Hadits tentang tanggung jawab terhadap istri & keluarga
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ
Artinya:
“Cukuplah seseorang itu berdosa jika ia menelantarkan orang yang menjadi tanggung jawabnya (nafkahnya).”
(HR. Abu Dawud no. 1692, dinilai hasan oleh Al-Albani)
3. Hadits lain: Hak istri sangat besar
إِنَّ لِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقًّا...
“Sesungguhnya istri-istri kalian memiliki hak atas kalian…”
(HR. Tirmidzi no. 1163, beliau berkata: hadits hasan shahih)



























































