"Bait Untuk Ibu"
Aku nulis puisi ini waktu lagi keinget banget sama sosok ibu. Di luar sana, ibu sering dianggap seperti malaikat yang harus serba bisa: masak, beresin rumah, ngurus anak, bantu ekonomi, tapi jarang ada yang nanya, “Ibu capek nggak?” Dari situlah muncul kalimat di kepala: lalu mengapa dia dituntut serba bisa, kalau dia sendiri mengaku hanya manusia biasa. Kalau kamu mau bikin puisi tentang ibu 4 bait yang bikin nangis, coba mulai dari hal paling sederhana yang kamu ingat. Misalnya, suara langkah ibu waktu subuh, tangan yang bau bawang tapi terasa paling hangat, atau tatapan lelahnya saat semua sudah tertidur. Detail kecil seperti itu yang bikin puisi terasa hidup dan menyentuh hati. Biasanya aku bagi 4 bait dengan alur kayak gini: Bait 1: Ceritain keseharian ibu. Bangun paling pagi, tidur paling akhir. Di sini kamu bisa masukin rasa takjubmu, sambil pelan-pelan mempertanyakan, apa dia manusia atau malaikat. Bait 2: Masuk ke perasaan ibu yang sering terlupakan. Tulis tentang lelah yang dipendam, air mata yang jatuh diam-diam di dapur, atau doa yang dia bisikkan saat semua orang nggak lihat. Bayangin kalau kamu tanya ke ibu: “Bu, ibu bahagia nggak?” dan dari situ lahir baris-baris yang jujur. Bait 3: Ceritakan perasaanmu sebagai anak. Penyesalan, kata-kata yang pernah terucap dan sekarang kamu sesali, momen saat kamu pura-pura nggak dengar nasihat ibu. Di sini biasanya bagian yang paling bikin nangis, karena kita diingatkan sama hal-hal yang nggak bisa diulang. Bait 4: Tutup dengan pengakuan bahwa ibu itu manusia, bukan malaikat, tapi justru di situlah letak keindahannya. Kamu bisa pakai kalimat seperti: "Tetapi jika bukan malaikat, dimanakah sayapnya?" Sayap ibu mungkin bukan di punggung, tapi di telapak tangan yang kasar, di pundak yang selalu siap jadi sandaran. Waktu nulis puisi kayak gini, aku nggak terlalu mikirin rima dulu. Yang penting jujur. Tulis aja seolah kamu lagi ngomong langsung ke ibu. Kadang aku sambil bayangin kalau suatu hari ibu baca, apa yang pengin banget aku sampaikan tapi suka ketahan di tenggorokan. Kalau kamu lagi jauh dari ibu, coba tulis setelah teleponan atau setelah lihat chat dari beliau. Emosi yang masih hangat itu bisa kamu jadikan bahan 4 bait yang padat tapi dalam. Dan nggak apa-apa kalau kamu nangis waktu nulis, justru dari situ kata-kata paling tulus biasanya muncul. Terakhir, jangan takut buat nunjukkin kelemahan ibu di puisimu. Mengakui bahwa dia manusia bukan berarti mengurangi rasa hormat, tapi justru bikin kita lebih sayang, karena kita sadar: selama ini kita ditopang oleh seseorang yang juga bisa lelah, tapi tetap memilih bertahan demi anak-anaknya.




