jajan dulu, urusan nanti
Sebagai seseorang yang sering menjalani filosofi ‘jajan dulu, urusan nanti,’ saya merasakan ada keasyikan tersendiri saat memanjakan diri dengan berbagai kuliner atau hal-hal menyenangkan meskipun urusan lain masih menumpuk. Dari pengalaman di Surabaya, kota yang kaya akan pilihan makanan dan tempat hangout, saya belajar bahwa jajan tidak hanya soal konsumsi, tapi juga sebagai cara untuk melepas penat dan mengisi energi agar bisa kembali produktif. Namun, tentu saja filosofi ini harus disikapi dengan bijak. Saya menyadari pentingnya membagi waktu dan anggaran antara kebutuhan sehari-hari dengan menikmati momen jajan. Dalam perjalanan mencari duit dan membangun karier, saya menggunakan momen jajan sebagai reward setelah pencapaian tertentu. Ini membantu menjaga semangat dan motivasi agar terus berkembang. Saya juga menggunakan pengalaman ini untuk mempelajari cara glow up, tidak hanya secara fisik tapi juga dalam hal keuangan dan manajemen waktu. Dengan aktif mencari peluang di Surabaya yang memiliki banyak komunitas kreatif serta peluang kerja sampingan, saya berhasil menyeimbangkan antara kebutuhan finansial dan keinginan pribadi. Jadi, strategi “jajan dulu, urusan nanti” bagi saya bukan hanya soal konsumtif, melainkan bagian dari perjalanan dewasa yang penuh pembelajaran dan pengembangan diri.



















































