Gara-gara Bola Kena Pagar, Oknum Polisi Diduga Aniaya Empat Anak di Surabaya

/Surabaya

Sebagai anggota Polri, setiap personel terikat pada sumpah Tribrata dan Catur Prasetya yang menjadi pedoman moral untuk melayani, melindungi, serta mengayomi masyarakat. Namun, hal ini tampaknya tidak tercermin dari tindakan Aipda Slamet Hutoyo, anggota Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, yang diduga melakukan penganiayaan terhadap anak-anak.

Peristiwa tersebut bermula pada Sabtu malam, 02 Mei 2026, sekitar pukul 22:30 WIB, di Gang 3 Nomor 84, Kelurahan Pacar Kembang, Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya. Saat itu, empat anak sedang bermain sepak bola di jalanan. Secara tidak sengaja, bola yang ditendang mengenai pagar rumah tetangga dan menimbulkan suara keras.

Mendengar suara benturan tersebut, Aipda Slamet Hutoyo diketahui keluar dari rumahnya. Alih-alih menegur dengan baik, ia diduga melempar balok paving ke arah anak-anak tersebut. Meskipun lemparan tidak mengenai sasaran, pelaku kemudian menghampiri dan melakukan kekerasan.

"Terlapor memukul mereka, termasuk di bagian kepala, menggunakan tangan yang memakai cincin akik. Anak saya sampai menangis karena tidak kuat menahan sakit," ujar Moch Umar, ayah dari salah satu korban, Minggu (03/05/2026).

Akibat perlakuan tersebut, tiga dari empat korban berinisial SBR (14), BS (15), dan NG (15) mengalami benjol di kepala dan trauma psikis. Satu korban lainnya belum melapor karena orang tuanya merasa takut.

Kejadian baru berhenti setelah warga sekitar turun tangan dan melerai. Namun, pelaku justru menantang dengan mengatakan, "Kalau keluarganya tidak terima, silahkan visum dan buat laporan."

Keesokan harinya, Minggu pagi, orang tua korban mendatangi SPKT Polrestabes Surabaya untuk melaporkan peristiwa tersebut. Laporan tercatat dengan nomor LP/B/936/V/2026/SPKT/Polrestabes Surabaya/Polda Jawa Timur, dengan pasal dakwaan Pasal 80 UU No. 17 Tahun 2016 jo Pasal 76C UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Sebelumnya, upaya mediasi telah dilakukan di Polsek Tambaksari pada Sabtu malam, namun tidak mencapai kesepakatan. Korban kemudian menjalani visum et repertum di RS Bhayangkara H.S. Samsoeri Mertojoso.

Menurut keterangan korban dan keluarga, pelaku merupakan suami dari Ketua RT setempat dan hadir dalam setiap proses mulai dari upaya visum awal hingga pelaporan.

Saat dikonfirmasi, Aipda Slamet Hutoyo mengakui perbuatannya, namun beralasan sedang emosi karena merasa terganggu dengan keributan. "Ya, saya khilaf. Soalnya anak-anak itu sering sekali berisik. Kasihan juga Pak Yanto (tetangga) kalau tiap malam diganggu," ujarnya santai.

Sementara Kuasa Hukum korban, Dodik Firmansyah, menyesalkan tindakan oknum polisi tersebut. Menurutnya, sebagai aparat, seharusnya pelaku memberikan contoh baik dan menegur secara bijak, bukan menggunakan kekerasan.

"Yang dilakukan tidak mencerminkan sumpah Tribrata dan Catur Prasetya. Polri harusnya jadi pelindung masyarakat, bukan malah menjadi sumber kekerasan," tegas Dodik didampingi rekan kerjanya, Sukardi.

Tim hukum korban tidak hanya menempuh jalur pidana, tetapi juga berencana melaporkan pelaku ke Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Jawa Timur agar kasus ini juga ditindaklanjuti melalui jalur kode etik kepolisian.

"Laporan ke Propam akan kami layangkan dalam waktu dekat ini," pungkas Sukardi.

#bolakenapagar #oknumpolisi #aniayaanak #pacarkembang #kotasurabaya

Surabaya
5/3 Diedit ke

... Baca selengkapnyaKasus kekerasan yang melibatkan oknum aparat kepolisian tentu saja menjadi perhatian serius bagi masyarakat luas. Sebagai anggota Polri, seharusnya mereka menjalankan sumpah Tribrata dan Catur Prasetya dengan menegakkan integritas dan melindungi warga, tanpa melakukan tindakan sewenang-wenang apalagi kekerasan terhadap anak-anak. Pengalaman pribadi saya yang kerap berinteraksi dengan aparat di lingkungan sekitar menunjukkan bahwa komunikasi dan pendekatan yang bijak sangat penting dalam menyelesaikan masalah kecil seperti anak-anak yang bermain bola. Ketika terjadi keluhan atau gangguan, saya percaya pendekatan persuasif dan mediasi bisa lebih efektif dibandingkan kekerasan fisik yang justru menimbulkan trauma psikologis dan luka fisik. Dalam kasus di Surabaya ini, tindakan melempar benda keras dan melakukan pemukulan hanya akan memperkeruh suasana dan menimbulkan keresahan di masyarakat. Bahkan bahwa pelaku juga suami Ketua RT setempat menambahkan kompleksitas masalah, karena peran sosial dan status memerlukan contoh teladan dalam bertindak. Pengalaman saya melihat penanganan isu anak yang berhadapan dengan aparat harus melibatkan unsur perlindungan anak secara serius. Anak-anak yang terkena dampak kekerasan perlu mendapatkan dukungan psikologis dan perlindungan hukum dengan melibatkan pihak terkait seperti dinas sosial dan lembaga perlindungan anak. Saya berharap aparat kepolisian dapat lebih meningkatkan pelatihan mengenai hak asasi manusia, perlindungan anak, dan komunikasi efektif agar insiden seperti ini tidak terulang. Selain itu, pelaporan yang dilakukan oleh keluarga korban dan keterlibatan propam Polda Jawa Timur menunjukkan bahwa mekanisme kontrol internal kepolisian berjalan, meski perlu pengawasan ekstra agar keadilan dapat ditegakkan. Kejadian ini juga menjadi peringatan bagi masyarakat untuk terbuka dalam berkomunikasi dan tidak takut melapor bila mengalami tindak kekerasan, serta bagi aparat untuk menjalankan tugas dengan sikap profesional dan humanis agar tidak menimbulkan kekecewaan dan keresahan yang lebih luas.

Posting terkait

Gambar sampul dengan judul "Miskin Gara2 Zina Lunasi Hutang Zina Sebelum Mati" dan seorang wanita berhijab di latar belakang kamar tidur, menjelaskan cara membayar hutang zina.
Teks menjelaskan bahwa zina adalah hutang yang harus dibayar lunas, dengan amalan taubat seperti shalat Taubat Nasuha, serta memperbanyak dzikir dan istighfar.
Teks berisi amalan taubat ketiga dan keempat: memperbanyak membaca Al-Qur'an, terutama surat tentang pengampunan, dan berpuasa untuk mengendalikan nafsu.
😭 MISKIN Gara2 ZINA‼️Lunasi Dengan Cara Islam✅
Assalamu'alaikum Lemonade #Lemon8Club Allah Subhanahu wata'ala berfirman : “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al Isra: 32) Dosa Besar: Perzinaan, atau hubungan seksual di luar pernikahan, merupaka
oktapolise

oktapolise

14rb suka

Gambar menampilkan berbagai obat-obatan seperti Sucralfate dan Enzyplex, dengan teks overlay "DEPRESI + GERD BERHASIL LEPAS OBAT GARA GARA INI !!" yang mengindikasikan keberhasilan lepas dari obat.
Gambar menunjukkan layar tablet yang menampilkan adegan medis dan alat pelacak kebugaran, dengan teks overlay "1. wajib olahraga" yang menekankan pentingnya aktivitas fisik.
Gambar memperlihatkan botol suplemen "LIFE EXTENSION BioActive Complete B-Complex", dengan teks overlay "2. minum vitamin B complex" sebagai salah satu solusi yang ditemukan.
kena depresi + gerd ternyata gara² kurang ini
masyaAllah aku udah lepas dari GERD dan depresiku amat sangat membaik . bukan karena obat . karena sesungguhnya obat²an lambung malah memperburuk gerdku yang bikin kehilangan nafsu makan sampai beberapa hari setelah aku cari akarnya ternyata aku KURANG : 1. kurang olahraga , aku bahkan suda
Dini Mutia

Dini Mutia

312 suka

Sebuah tangan memegang dompet hitam berisi uang tunai di latar belakang pasar sayur. Teks di gambar menyatakan 'BUKAN PELIHARA TUYUL iNi CARA iRT MENGHASILKAN UANG SAMBIL REBAHAN TANPA HARUS NiNGGALiN ANAK'.
Tangan memegang dompet berisi uang dengan logo TikTok, Shopee, Lazada. Teks menjelaskan pekerjaan afiliasi cocok untuk ibu dengan bayi, bisa dilakukan sambil rebahan, dan perlu rajin serta konsisten.
Gambar menunjukkan kantong plastik berisi irisan sayuran atau rempah, dengan ikon telepon. Teks menjelaskan layanan konsultasi kesehatan tradisional online, terutama jamu/herbal, yang diberikan oleh mantan tenaga kesehatan tradisional.
✨Dikira Pelihara Tuyul Gara-gara Uang dari Ini...
Siapa bilang IRT ngga bisa punya penghasilan sendiri? 🫶 Aku dulu salah satu yang mikir, “Ya udahlah fokus ngurus anak aja…” Tapi makin hari aku makin bosen dengan kegiatan yang monoton 😵‍💫 Akhirnya aku coba-coba beberapa hal yang aku sukai. Mulai dari 0 skill bisnis, sambil gendong anak pun aku
fitrihandyan

fitrihandyan

498 suka

Gambar menampilkan kolase empat jenis genggaman tangan yang berbeda (A, B, C, D) untuk menebak sifat asli seseorang. Tipe A menunjukkan jempol di luar, Tipe B jempol di dalam, Tipe C jempol berdiri di atas, dan Tipe D kedua tangan saling menggenggam.
Ketauan SIFAT ASLI KAMU cuma gara gara ini
✨ 1. Jempol di Luar (Thumb Outside) – Tipe A Kamu melipat tangan dan jempol berada di luar jari-jari. Makna kepribadian: • Terlihat tenang, kalem, easy-going • Suka mengobservasi dulu baru bertindak • Emosinya stabil • Orangnya hati-hati tapi bijaksana
Suka Foto

Suka Foto

220 suka

Dari 70kg ➝ 50kg 😭✨Gara-gara Diet IF
Aku dulu nggak percaya bisa turun 20kg 😭 Tapi ternyata kuncinya bukan diet ekstrim, melainkan konsisten & sabar. IF bantu aku lebih terkontrol soal makan & gula. Nggak instan, tapi hasilnya bertahan 🤍 Kalau kamu lagi di fase berjuang, jangan nyerah ya ✨ Save dulu buat motivasi 💕
Viona 🎀

Viona 🎀

435 suka

Sampe di puji suami gara gara masak menu ini
#fyp
dapur si mbak

dapur si mbak

640 suka

Usia 25th Dikira Masih Sekolah, Gara²...
Kalian pernah ngalamin hal serupa juga ga guys? Alhamdulillah sekarang aku udah ga terlalu mempermasalahkan perihal tinggi badan kayak dulu, dulu bener² se-insecure itu, kalau sekarang mikirnya "hidup ga selalu tentang tinggi badan kok". Yah walaupun pekerjaan di Indonesia kriterianya b
ꪀꫀꪗ•ᴗ•

ꪀꫀꪗ•ᴗ•

202 suka

Lihat lainnya