Bagaimana kita melihat diri kita dan orang lain?
Aku rasa manusia memiliki dua cara pandang yang berbeda: satu untuk dirinya sendiri, dan satu lagi untuk orang lain.
Ketika dapurku berantakan saat aku memasak, itu terasa wajar. Panci kotor, meja penuh tepung, lantai basah semuanya bisa kumaklumi. Aku tahu aku sedang memasak, aku tahu prosesnya memang seperti itu, dan aku tahu nanti aku akan membersihkannya. Dalam kepalaku, kekacauan itu punya cerita dan alasan.
Tapi jika aku melihat dapur orang lain yang berantakan, penilaianku berubah cepat. Bukan lagi “sedang memasak”, melainkan “jorok”. Aku tidak melihat proses, niat, atau kelelahan mereka. Yang kulihat hanya hasil akhirnya. Tanpa konteks, tanpa empati.
Hal yang sama terjadi pada tubuh.
Jika aku membuat adonan dengan tanganku sendiri, itu terasa sah. Bahkan kadang terasa lebih “alami” atau “lebih enak hasilnya”. Aku tahu tanganku bersih, aku tahu kapan terakhir aku mencucinya, aku tahu tubuhku. Ada rasa percaya yang otomatis muncul.
Namun ketika orang lain melakukan hal yang sama, reaksiku bisa berbalik menjadi jijik. Padahal secara logika, mungkin tangannya sama bersihnya. Tapi tubuh orang lain adalah wilayah asing. Dan yang asing sering kali memicu rasa tidak aman, lalu diterjemahkan menjadi jijik.
Di sinilah aku sadar: manusia tidak hidup dengan satu standar, melainkan dua.
Satu standar yang lunak untuk diri sendiri, dan satu standar yang keras untuk orang lain.
Untuk diriku, aku memberi alasan.
Untuk orang lain, aku memberi label.
Aku memahami diriku dari dalam niat, emosi, kondisi, kelelahan.
Aku memahami orang lain dari luar tindakan yang terlihat sesaat.
Maka aku bisa berkata:
“Aku berantakan karena capek.”
Tapi tentang orang lain: “Dia memang jorok.”
Padahal mungkin kami sama-sama capek.
Yang menarik, kesadaran ini tidak otomatis membuatku berhenti menghakimi. Reaksi itu sering muncul lebih cepat daripada pikiran rasional. Tapi setidaknya, ketika aku menyadarinya, ada jeda kecil sebelum penghakiman itu mengeras. Ada ruang untuk bertanya: apakah aku akan sekejam ini jika itu adalah diriku sendiri?
Mungkin memang begini manusia bekerja. Kita merasa tubuh kita aman karena kita mengenalnya. Ruang kita terasa netral karena kita menguasainya. Sementara tubuh dan ruang orang lain selalu punya potensi ancaman kotor, salah, atau tidak sesuai standar kita.
Dan mungkin di situlah pelajarannya.
Bahwa banyak penilaian moral, rasa jijik, bahkan kemarahan, bukan selalu tentang benar atau salah melainkan tentang kedekatan dan jarak. Tentang siapa yang kita kenal, dan siapa yang terasa asing.
Aku tidak menulis ini untuk mengklaim diri lebih bijak. Justru sebaliknya. Ini pengakuan bahwa aku pun manusia biasa, dengan bias yang bekerja diam-diam setiap hari. Tapi mungkin, dengan menyadari bahwa aku memakai dua standar, aku bisa belajar melunakkan yang kedua standar untuk orang lain—agar sedikit lebih mendekati standar yang kupakai untuk diriku sendiri.
Karena jika aku ingin dimengerti lewat niat dan prosesku, mungkin orang lain pun pantas mendapatkan ruang yang sama.





























