Kalian tipe yang mana? Kalau aku kadang beda-beda tiap novel. Kadang ada yang aku rancang dulu outlinenya, kadang juga ada yang aku nggak rancang apapun. Biarin aja mengalir. Pastinya juga kadang keduanya aku gabung.
Misalnya aku nulis sampai 1-3 bab, setelah itu ambil buku atau buka apk note di hp, baru deh aku catat semua siapa aja pemerannya, karakternya, situasi awalnya, dll. Baru nanti kalau ada waktu aku rancang dikit-dikit tapi kadang aku ubah juga di tengah jalan.
... Baca selengkapnyaWaktu awal banget belajar nulis novel, aku sering bingung pas orang bahas "plotter" dan "pantser". Katanya sih ini soal cara kamu merencanakan cerita, tapi prakteknya di lapangan nggak sesimpel itu.
Buat kamu yang masih bingung, plotter itu biasanya penulis yang suka nyusun outline rapi dari awal. Misalnya, kamu udah tahu bab 1 sampai bab 20 bakal ada apa aja, konflik besarnya apa, ending-nya gimana. Kadang sampai detil banget: siapa tokohnya, sifat, latar, bahkan simbol-simbol kecil di cerita (kayak cabang dengan empat buah beri merah dan daun hijau yang ternyata punya makna tertentu di akhir cerita). Semua dicatat rapi di buku catatan atau aplikasi note di HP.
Sebaliknya, pantser itu tipe yang lebih suka "mengalir". Mereka biasanya cuma punya gambaran kasar: tokoh utama seperti apa, konflik utama apa, lalu langsung ngetik. Cerita berkembang sambil jalan. Kadang tokoh baru muncul tiba-tiba, alur belok mendadak, dan ending berubah total dari rencana awal (kalau ada rencana sama sekali). Sensasinya mirip kayak lagi baca cerita sendiri karena kita juga nggak tahu bakal ke mana.
Aku pribadi sempat coba dua-duanya. Waktu full jadi plotter, aku bikin outline lengkap, tapi pas nulis suka terasa kaku dan kayak cuma mengikuti catatan. Sebaliknya, waktu full jadi pantser, aku memang lebih bebas, tapi sering nyasar di tengah cerita, bingung mau bawa konflik ke mana, bahkan beberapa draft mangkrak di tengah jalan.
Akhirnya aku nemu gaya campuran yang paling cocok buatku. Biasanya aku nulis dulu 1–3 bab pertama pakai gaya pantser. Di tahap ini aku fokus kenalan dulu sama tokoh, suasana, dan dunia ceritanya. Setelah mulai kebayang pola konflik dan karakter, baru aku berhenti sebentar, buka buku atau aplikasi note, terus bikin semacam "peta kecil" cerita.
Di catatan itu, aku tulis siapa aja pemeran penting, sifat mereka, hubungan antar tokoh, situasi awal, dan kira-kira konflik utama apa. Outline-nya nggak harus super lengkap, lebih kayak rambu-rambu biar aku nggak kehilangan arah. Di tengah jalan pun, catatan itu sering aku ubah: ada tokoh yang tiba-tiba jadi penting, ada adegan yang aku hapus, atau ending yang aku putar balik.
Kalau kamu masih belum tahu kamu lebih cocok jadi plotter atau pantser, kamu bisa coba eksperimen per cerita. Misalnya, satu cerpen pakai gaya full pantser, lalu proyek berikutnya kamu coba bikin outline dulu. Bandingkan: mana yang bikin kamu lebih semangat nulis, mana yang bikin cerita lebih mudah selesai. Yang penting, nggak ada gaya yang paling benar. Yang ada cuma gaya yang paling cocok buat kamu.
Oh ya, kalau kamu suka metafora visual, kamu bisa masukin detail-detail kecil seperti daun, ranting, atau buah beri merah ke dalam cerita sebagai simbol. Hal-hal kecil kayak gitu bisa kamu rencanakan di tahap plotter, tapi tetap kamu kembangkan secara spontan di tahap pantser. Intinya, jangan takut bereksperimen sampai kamu nemu kombinasi yang paling nyaman buat nulis novel versimu sendiri.
Dua-duanya juga🤣