... Baca selengkapnyaAku juga lagi di fase lelah banget sama omongan orang. Bukan cuma capek fisik, tapi capek batin karena harus terus menghadapi komentar yang kadang nyelekit, padahal kita nggak salah apa-apa. Rasanya pengin hidup tenang, rezeki lancar, hati damai, tanpa drama dan tanpa perlu jelasin apa-apa ke orang yang sebenarnya nggak benar-benar peduli.
Yang pelan-pelan aku pelajari adalah: nggak semua hal harus ditanggapi. Dulu, tiap ada omongan miring sedikit, aku kepikiran berhari-hari. Sekarang, aku mulai belajar membiarkan. Di fase lelah ini, aku justru belajar buat lebih dekat sama Tuhan lewat doa. Bukan doa jelek, tapi doa supaya hati tenang dan mulut orang yang suka komentar jahat bisa "terbungkam" dengan sendirinya, tanpa aku harus balas apa pun.
Doa yang sering aku panjatkan kurang lebih begini: minta dilindungi dari omongan yang nggak baik, dari fitnah, dari komentar yang menjatuhkan. Minta supaya kalau ada orang yang niatnya nggak baik, Allah sibukkan mereka dengan urusan mereka sendiri. Jadi, bukan kita yang ribut, tapi Allah yang jaga. Ada rasa lega ketika kita serahkan semuanya dari jarak jauh, tanpa perlu ribut atau bikin drama.
Selain doa, aku juga mulai belajar tegas. Tetap bisa punya empati, tapi tahu batas. Misalnya, kalau ada yang mulai ngomongin hal sensitif, aku alihkan pembicaraan atau jawab seperlunya saja. Di titik ini, aku sadar kalau kedamaian hati itu lebih mahal daripada sekadar terlihat baik di mata orang yang nggak akan pernah puas menilai.
Kerja sambil jaga mental juga penting. Meja kerja yang rapi, ada laptop, buku catatan, tanaman hias, dan secangkir kopi sederhana bikin suasana hati lumayan lebih tenang. Dari situ aku nulis isi kepala, keluh kesah, dan juga doa-doa kecil yang kadang cuma aku dan Tuhan yang tahu. Rasanya kayak punya ruang aman sendiri.
Kalau kamu lagi di fase lelah juga, nggak apa-apa. Kamu boleh menarik diri sebentar, mengurangi interaksi dengan orang yang bikin capek, sambil memperbanyak doa baik. Doa yang membungkam mulut orang dari jarak jauh itu menurutku bukan tentang balas dendam, tapi tentang minta dilindungi dan dijauhkan dari hal-hal yang merusak hati.
Pada akhirnya, tujuan aku cuma satu: hidup tenang, rezeki lancar, hati lega, dan nggak lagi mudah sakit hati sama komentar yang sebenarnya nggak penting. Pelan-pelan, kita belajar memilih: mana yang layak dipikirkan, mana yang cukup diserahkan lewat doa dan dilepas begitu saja.
Berdamai dengan semuanya membuat kita lebih tenang, belajar tidak meributkan hal kecil....