... Baca selengkapnyaJujur, aku dulu sempat nganggep beberapa istilah kayak "cewek bispak" atau "logo tesla perempuan" itu cuma bagian dari budaya bercanda di internet. Banyak muncul di komen, meme, atau obrolan tongkrongan, jadi lama-lama kebiasaan kedengeran dan seolah-olah biasa aja. Tapi setelah jadi IRT dan makin sering baca cerita perempuan lain, baru kerasa banget kalau istilah kayak gitu ternyata nyakitin dan merendahkan.
Istilah "bispak" misalnya, sering dipakai buat ngecap cewek yang dianggap "murahan" atau gampang diajak. Padahal kita nggak tahu latar belakang hidupnya, kenapa dia sampai di posisi itu, dan apa yang sebenarnya dia hadapi. Dengan satu kata aja, perempuan langsung ditempel label negatif, seolah-olah nilai dirinya cuma dinilai dari tubuh dan seks. Itu bikin aku sadar betapa gampangnya masyarakat ngurangin martabat perempuan cuma lewat bahasa.
Sama juga dengan istilah "logo tesla perempuan" yang sering dipakai buat ngejek bentuk tubuh atau bagian tubuh tertentu. Kedengarannya mungkin lucu buat sebagian orang, tapi buat yang jadi objek, itu bisa nyerang kepercayaan diri dan bikin insecure. Kita sering lupa kalau di balik candaan visual atau istilah trending, ada orang yang bener-bener ngerasa direndahin.
Yang bikin tambah miris, istilah-istilah ini nggak cuma muncul dari laki-laki, tapi kadang ikut dinormalisasi oleh sesama perempuan. Misalnya celetukan "ih kayak cewek bispak banget" atau "mukanya ani-ani" jadi bahan bercandaan antar teman. Lama-lama, kita sendiri ikut memperkuat stereotip yang merugikan perempuan. Padahal sebagai IRT yang tiap hari bergelut dengan pekerjaan rumah dan tekanan sosial, aku pengin banget lingkungan yang lebih suportif, bukan saling menjatuhkan.
Sekarang kalau nemu komen atau obrolan yang pakai istilah seksis kayak gitu, aku berusaha berhenti ikutan ketawa. Kadang aku pelan-pelan bilang, "eh, itu sebenarnya nggak lucu lho, agak merendahkan perempuan." Nggak selalu didengar, tapi setidaknya ada usaha buat ngingetin. Menurutku, langkah kecil kayak mulai sadar, berhenti pakai, dan berani ngomong kalau nggak nyaman itu penting banget.
Kalau kamu pernah dikatain dengan istilah-istilah kayak cewek bispak, logo tesla perempuan, atau sebutan lain yang sejenis, kamu nggak lebay dan kamu nggak terlalu baper. Rasa nggak nyaman itu valid. Kita berhak marah kalau martabat kita direndahkan, apalagi dibungkus sebagai "cuma bercanda". Semoga makin banyak orang yang sadar kalau kata-kata punya dampak besar, dan candaan yang sehat harusnya nggak menjatuhkan siapapun, termasuk perempuan.
Aku share ini bukan buat ngatur orang lain, tapi lebih ke catatan pribadi sebagai IRT yang pengin lingkungan lebih aman dan menghargai perempuan. Kalau ada yang ngerasa relate, boleh banget cerita juga. Siapa tahu, dengan saling berbagi pengalaman, kita bisa pelan-pelan ngubah budaya bahasa yang selama ini diam-diam melukai.
Kucing ngapain kk itu ?