... Baca selengkapnyaJujur, aku dulu juga cuek soal pipis di tempat umum. Tapi makin sering main ke taman dan nyium bau pesing di sudut‑sudut pohon, aku mulai mikir: kalau aku nggak tegas ke anak dari sekarang, nanti dia pikir pipis di pohon itu hal yang biasa. Padahal sudah ada toilet umum yang bisa dipakai.
Yang pertama aku perbaiki adalah kebiasaan di rumah. Aku biasakan anak tiap mau pipis langsung ke toilet, bukan ke kamar mandi lain atau pakai pot sembarangan. Dari sini dia pelan‑pelan paham kalau tempat pipis itu ya toilet. Aku juga suka jelasin pakai bahasa sederhana, misalnya: "Pipis tuh tempatnya di toilet, biar lantai dan taman nggak bau pesing." Anak mungkin belum paham kebersihan secara teori, tapi kalau diulang terus lama‑lama nempel.
Waktu mau jalan ke taman atau mall, biasanya aku kasih briefing dulu di rumah: "Nanti kalau di taman mau pipis, bilang ke bunda ya, kita cari toilet." Jadi dia sudah kebayang kalau di luar rumah pun ada toilet umum yang bisa dipakai. Sampai di lokasi, aku sengaja nunjukin toiletnya: "Nah, ini toilet kalau adek mau pipis." Hal se-simple itu lumayan bantu supaya dia nggak asal pipis di pojokan.
Biar nggak kejadian anak keburu kebelet lalu pipis sembarangan, aku punya kebiasaan cek jadwal pipisnya. Misalnya tiap 1–2 jam ajak anak ke toilet dulu, walaupun dia bilang belum terlalu kebelet. Kadang memang mereka males, tapi kalau dibikin santai kayak: "Kita liat toilet lucu yuk," biasanya mau. Ini jauh lebih gampang daripada panik cari toilet ketika sudah super kebelet.
Aku juga selalu siap perlengkapan kecil: tisu kering, tisu basah, plastik kecil buat sampah, dan baju ganti. Jadi kalau toilet umum agak kotor, aku bisa lap sekadarnya dulu, lalu bantu anak duduk atau setidaknya berdiri dengan posisi aman dan tetap bersih. Dengan begitu, aku sendiri lebih tenang dan nggak merasa jijik berlebihan sama toilet umum.
Hal lain yang menurutku penting adalah nemenin anak langsung ke dalam toilet, jangan dilepas sendiri. Di dalam, aku pandu langkah demi langkah: buka celana, pipis ke arah kloset, siram sampai bersih, lalu cuci tangan. Kalau dia berhasil, aku selalu kasih pujian: "Wah, hebat banget sudah pipis di toilet umum, bukan di pohon!" Pujian sederhana bikin dia merasa bangga dan mau mengulang perilaku baik itu.
Sekarang setiap main ke taman, aku sengaja kasih contoh juga. Kalau aku sendiri mau pipis, aku bilang ke anak: "Bunda ke toilet dulu ya." Suami pun aku ajak kompak, supaya anak tahu bahwa orang dewasa juga nggak pipis sembarangan. Lama‑lama anak otomatis ngomong, "Bund, mau pipis, ke toilet ya," dan itu rasanya puas banget.
Menurutku, kuncinya konsisten dan nggak bosan menjelaskan. Kalau kita sebagai orang tua membiarkan anak pipis di pohon atau di sudut taman, mereka akan menganggap itu normal, dan orang lain yang akan terganggu dengan bau pesingnya. Dengan sedikit usaha buat ajarin anak pipis di toilet umum, kita bukan cuma bantu anak belajar disiplin, tapi juga ikutan jaga kebersihan taman dan ruang publik. Jadi tiap kali lihat tulisan atau ajakan "AJARIN ANAK PIPIS di toilet umum BUKAN DI POHON", aku merasa relate banget karena itu benar‑benar bisa dimulai dari kita sendiri di rumah.
keren, semua orangtua harusnya begini👍