Dulu, cinta terbentuk dari 2 perasaan tulus yang saling menginginkan kan? Sederhana, tanpa perlu menuntut apapun.
Sekarang, cinta harus bersyarat. Perubahan pandangan sosial membuat orang-orang saling bersaing, saling merendahkan satu sama lain, mengambil keuntungan dari "cinta" yang disepakati.
Kini, ketulusan perlahan mulai hilang.
Welcome to Transactional Relationship, Era dimana suatu hubungan bukan lagi hanya berbicara tentang cinta, melainkan fungsi dan keuntungan!
(Baca selengkapnya di slide✨)
Menurutmu, apakah ketulusan masih ada? atau memang udah seharusnya cinta dilakukan dengan transaksi? Tulis pendapatmu di kolom komentar yaa!
Suka dengan konten serupa? jangan lupa mampir ke profileku atau cek di hastag #opinionbyvi
Like dan Share jika kalian merasa informasi ini bermanfaat!
... Baca selengkapnyaJujur, pertama kali dengar istilah transactional relationship, aku kira itu cuma soal "pacaran demi duit". Tapi makin ke sini, ternyata bentuknya jauh lebih halus dan sering banget kita temui di hubungan sehari-hari, bahkan kadang kita sendiri tanpa sadar ikut berpikir transaksional.
Kalau lihat lagi, transactional relationship adalah hubungan yang fokus pada manfaat dan timbal balik: finansial, seksual/emosional, sampai reputasi atau popularitas. Pertanyaannya selalu: "Aku dapat apa dari dia?" atau "Hubungan ini menguntungkan aku nggak?". Di satu sisi, wajar sih, karena hidup memang nggak lepas dari transaksi. Kita kerja dibayar, kita bantu orang juga kadang berharap minimal dihargai. Tapi ketika pola ini dibawa mentah-mentah ke hubungan cinta, kualitas kedekatannya jadi beda.
Banyak orang sekarang cari "relationship" bukan lagi buat tumbuh bareng, tapi buat survive. Ekonomi susah, sosial media pamer pencapaian, bikin standar hubungan ikut naik. Pacar bukan hanya pasangan, tapi juga dianggap sebagai "investasi": yang bisa bantu naik status sosial, kasih rasa aman finansial, atau jadi pelarian emosional. Di titik ini, fungsi cinta kasih kadang berubah jadi sekadar alat tukar.
Menurutku, memahami arti relationship itu penting banget. Relationship adalah koneksi dua orang yang idealnya saling menghidupkan, bukan saling menghabiskan. Kalau transactional relationship sifatnya sementara dan function-driven (selama masih menguntungkan, lanjut), transformational relationship itu growth-driven: ada proses saling menguatkan, saling jujur, dan tetap bertahan walau lagi nggak "untung".
Aku sendiri pernah ada di hubungan yang cukup transaksional. Bukan soal uang, tapi soal validasi. Selama dia selalu ada dan bikin aku merasa berharga, aku stay. Begitu perhatian berkurang, aku langsung mikir, "Ngapain sih lanjut kalau nggak bikin bahagia lagi?". Dari luar kelihatan biasa saja, tapi kalau jujur, itu juga bentuk transaksi: aku memberi perhatian, tapi menuntut balasan dalam bentuk rasa aman yang terus-menerus.
Menurutku, hidup itu memang sedikit banyak transaksional, tapi kita masih bisa pilih cara menjalani cinta. Nggak semua hubungan harus super ideal, tapi minimal kita sadar: apakah hubungan ini cuma soal fungsi atau benar-benar membawa transformasi dalam diri kita? Kalau ternyata hubungan yang sekarang lebih mirip kontrak keuntungan, nggak apa-apa buat refleksi, bukan berarti gagal, justru bisa jadi fase penting buat upgrade cara kita melihat cinta.
Kalau kamu lagi bingung "relationship artinya" dalam hidupmu sekarang, coba tanya ke diri sendiri: setelah hubungan ini, aku jadi versi diri yang lebih baik atau justru semakin lelah dan merasa habis? Jawaban jujur dari pertanyaan itu biasanya cukup kuat buat nunjukin apakah hubunganmu lebih transaksional atau sudah masuk ke level transformasional.