hari ini aku menemukan hal unik yang belum pernah kutemukan di tempat lainnya selama perjalanan kehidupan.
bisa dibilang, ekonomi kita sama sama sulit. tapi beberapa warga yang tinggal di desa, masih punya rasa kemanusiaan dan saling bantu dengan ikhlas.
1 jam lalu, penyanyi jalanan datang ke dusun tempatku singgah. dan tiba-tiba ada seorang pria dengan motor datang dengan bermodalkan salon dan mic yang dibawa.
dia bernyanyi setelah mengucapkan salam pembukaan.
dia bernyanyi di motornya sebanyak 4 lagu tanpa ada yang datang menonton.
suara lagunya kami dengar dari rumah masing-masing.setelah 1 lagu berganti ke lagu ke dua, ibu yang ada di dalam rumah, menyuruh ku mengisi kantong plastik, penuh dengan beras dan memberikan kepada si penyanyi itu.
akupun baru tau, ternyata bayar penyanyi, bisa juga pakai beras. setelah memberikan beras, si penyanyi pun memberikan do'a do'a yang baik sebagai ucapan terimakasih nya.
akupun mengaminkan.
sebagai pengingat.
asli, aku gak habis pikir, klo di desa, beras masih bisa jadi pengganti uang di saat-saat tertentu.
di era ekonomi yang serba waw ini, jangan lupa untuk bersyukur dan bersedekah seikhlasnya. bersedekah juga merupakan salah satu investasi untuk kehidupan setelah kita mati. tetaplah jadi baik.
... Baca selengkapnyaPengalaman bayar penyanyi keliling dengan beras memang sebuah fenomena yang jarang ditemui, terutama di era modern seperti sekarang ini. Di beberapa dusun atau desa, beras bukan hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga bisa menjadi alat tukar yang sangat bermakna. Saya pernah mendengar cerita dari beberapa orang yang tinggal di pedesaan bahwa barter dengan bahan pangan seperti beras, gula, atau bahkan hasil panen lain masih sering dilakukan. Hal ini tidak hanya menunjukkan betapa eratnya hubungan sosial antarwarga desa, tapi juga mengajarkan kita nilai kemanusiaan dalam membantu sesama.
Penyanyi jalanan yang tampil di sebuah dusun biasanya datang dengan perlengkapan sederhana, seperti motor, mikrofon, dan pengeras suara portabel. Mereka menghibur warga dengan lagu-lagu yang mengangkat suasana hati, meski tidak ada penonton langsung. Namun, keberadaan mereka diapresiasi dengan cara unik—di desa tersebut, warga membayar mereka dengan beras. Ini tentu berbeda dengan bayaran uang yang biasa diterima oleh para penghibur di perkotaan.
Memberikan beras sebagai bayaran bukan berarti ekonomi desa sangat buruk, melainkan mengindikasikan sebuah sistem berbagi yang jauh lebih humanis. Beras yang diterima penyanyi ini menjadi sumber penghidupan mereka sekaligus simbol terima kasih dari warga. Setiap kali setelah menerima beras, penyanyi tersebut membalas dengan doa yang tulus, menambah nilai spiritual pada interaksi ini.
Menurut pengalaman pribadi saat berkunjung ke daerah pedesaan, tradisi seperti ini memperkuat rasa kebersamaan dan saling menghargai. Keikhlasan memberi dan menerima bukan hanya soal materi, tapi soal menjaga hubungan sosial yang sehat. Dalam kondisi ekonomi serba sulit, model pembayaran seperti ini mengajarkan kita untuk terus bersyukur dan berbagi sesuai kemampuan. Bersedekah, apalagi dengan cara yang sederhana dan ikhlas, adalah investasi jiwa yang berharga dan bermakna.
Bagi kita yang tinggal di kota, kisah seperti ini menjadi pengingat pentingnya menjaga rasa kemanusiaan dan solidaritas. Semoga kita bisa mengambil nilai positif dari tradisi ini dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam membantu sesama yang sedang kesulitan.