Kenangan Waktu Mengaji
ini kalo gak salah video 1 tahun yang lali. di video sama Bu ustadzahnya, dan posisi mas Rizky habis jatuh bibirnya langsung bengkak. setelah kejadian itu dia gak mau ngaji lagi, Alhamdulillah nya sekarang sudah mau ngaji lagi
#MyJourney #CaraGlowUp #ReviewJujur #TipsLemon8 #DiskusiYuk /Kepulungan
Mengalami kesulitan saat belajar mengaji memang tidak jarang terjadi, terutama pada anak-anak yang masih dalam tahap perkembangan emosional dan fisik. Kisah Mas Rizky yang mengalami kecelakaan kecil hingga membuat bibirnya bengkak dan sempat tidak mau mengaji lagi, menjadi pengingat pentingnya peran dukungan dari orang tua dan guru dalam proses belajar. Saya pernah mengalami situasi serupa ketika anak saya juga merasa takut untuk melanjutkan kegiatan mengaji setelah terpeleset saat bermain. Rasa takut yang muncul harus ditangani dengan penuh kesabaran dan pendekatan yang lembut agar anak merasa aman dan yakin kembali untuk belajar. Dalam proses ini, saya belajar bahwa membangun komunikasi terbuka antara anak dan guru, serta memberi pujian atas setiap usaha yang dilakukan sangat membantu mempercepat adaptasi anak. Selain itu, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan tidak menekan anak sangat penting. Kadang-kadang, cerita inspiratif dari orang lain yang berhasil mengatasi ketakutan mereka saat belajar dapat memotivasi anak untuk bangkit kembali. Misalnya, video atau cerita nyata seperti pengalaman Mas Rizky bisa menjadi media pembelajaran yang efektif. Di lingkungan pengajian, peran ustadzah juga sangat vital untuk membangun kepercayaan diri anak. Guru yang ramah dan perhatian dapat membuat anak merasa dihargai dan didukung, sehingga mereka lebih bersemangat untuk belajar mengaji. Bagi orang tua yang menghadapi kondisi serupa, saya sarankan untuk selalu mengamati perubahan perilaku anak dan tidak ragu untuk memberikan pendampingan ekstra atau berdiskusi dengan guru pengajian. Kesabaran dan ketulusan dalam mendampingi belajar mengaji akan memberikan hasil yang membahagiakan bagi anak dan keluarga. Semoga kisah ini menjadi inspirasi dan pengingat bahwa setiap anak memiliki ritme masing-masing dalam belajar, dan dukungan dari lingkungan sekitar sangat menentukan keberhasilan mereka dalam mengaji dan pendidikan agama secara umum.



























































