di waktu mitting,cuman koe yg nangis
Menghadiri rapat biasanya dianggap sebagai kegiatan formal yang harus diikuti dengan sikap serius dan tenang. Namun, terkadang emosi pribadi bisa muncul tiba-tiba, terutama bila topik rapat menyentuh hal-hal yang sangat dekat dengan perasaan kita. Saya pernah mengalami situasi saat rapat dimana saya adalah satu-satunya yang menangis. Momen seperti itu awalnya membuat saya merasa sangat malu dan tidak nyaman, apalagi dengan banyak rekan kerja yang mungkin saja memperhatikan. Tetapi setelah refleksi, saya menyadari bahwa menangis bisa menjadi bentuk kejujuran emosional yang membantu saya lebih memahami situasi dan memperkuat ketahanan diri. Bagaimana cara mengelola emosi saat rapat? Pertama, penting untuk mengenali penyebab emosi tersebut. Apakah itu karena stres pekerjaan, masalah pribadi, atau topik yang sangat sensitif? Mengakui perasaan sendiri merupakan langkah utama. Kedua, cobalah tarik napas dalam-dalam dan gunakan teknik grounding untuk menenangkan diri. Jika perlu, minta izin sejenak untuk keluar ruangan agar dapat mengumpulkan diri. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa menunjukkan emosi di tempat kerja bukanlah hal yang harus disembunyikan terus-menerus. Asalkan kita tetap menjaga profesionalisme dan mengetahui batasan, mengungkapkan emosi bisa membuka ruang komunikasi yang lebih manusiawi di lingkungan kerja. Agar tidak terulang, saya juga belajar untuk mempersiapkan diri lebih matang sebelum rapat penting, termasuk mengelola stres dan emosi melalui berbagai cara seperti meditasi, olahraga, atau curhat dengan teman terpercaya. Dengan demikian, walaupun di waktu mitting, cuman koe yg nangis, itu jadi pengalaman yang memperkaya batin dan meningkatkan kecerdasan emosional di tempat kerja.




























































kamu pingin tau gak? rasa sakit in!,nyesek tak tau harus melampiaskan nya pada siapa ? utk kesekian kali nya