8 April 2026 Hari Kelahiran Bodhisattva Samantabha
Terima kasih kepada Buddha Sakyamuni!
Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa yang maha pengasih dan maha penolong!
Terima kasih kepada Para Buddha dan Dewa Pelindung Dharma dari seluruh penjuru!
Terima kasih kepada Master Jun Hong Lu!
Terima kasih kepada semua saudara se-dharma!
Apabila ada kesalahan dan kekurangan dalam postingan kami, kami memohon kepada Guan Shi Yin Pu Sa, para Dewa dan Pelindung Dharma memaafkan, Master Jun Hong Lu memaafkan, mohon saudara-saudara dan teman-teman se-Dharma memaafkan.
... Baca selengkapnyaSebagai umat awam, dulu aku sering bingung bedanya Bodhisattva Pu Xian (Samantabhadra), Wen Shu, Guan Shi Yin, dan Di Zang Wang Pu Sa. Semuanya terasa agung, tapi dalam kehidupan sehari-hari aku tidak tahu harus mendekat yang mana dulu. Setelah banyak mendengar ceramah dan membaca penjelasan, aku baru paham bahwa setiap Bodhisattva punya keistimewaan dan "spesialisasi" sendiri, dan kita nggak perlu membanding-bandingkan mereka.
Bodhisattva Pu Xian Pu Sa sering digambarkan duduk di atas gajah putih dengan cahaya keemasan. Dari yang aku pelajari, Pu Xian melambangkan praktik, tindakan nyata, dan ikrar besar. Di ajaran Xin Ling Fa Men, Pu Xian juga dikaitkan dengan nian jing (membaca sutra/mantra). Jadi, kalau sedang malas baca paritta atau sutra, aku biasanya berikrar di depan altar sederhana di rumah: memohon kepada Bodhisattva Pu Xian supaya membantuku tekun membaca. Ternyata ketika ikrar itu sungguh-sungguh, hati jadi lebih ringan dan konsisten.
Wen Shu Pu Sa (Manjusri) melambangkan kebijaksanaan. Di salah satu gambar, dijelaskan bahwa Bai Hua Fo Fa berhubungan dengan Wen Shu. Aku mempraktikkannya dengan cara sederhana: setiap kali emosi memuncak, aku berhenti sebentar, tarik napas, lalu bertanya ke diri sendiri, "Kalau pakai kebijaksanaan Bodhisattva, aku akan jawab apa?" Pelan-pelan, cara berpikir berubah, dan hidup terasa lebih lancar, seperti yang tertulis di teks: menggunakan kebijaksanaan Bodhisattva untuk menerangi sifat dasar jiwa.
Guan Shi Yin Pu Sa (Dewi Kwan Im) terkenal dengan welas asih dan suka menolong. Di gambar OCR disebutkan bahwa Bodhisattva mengerti kesibukan manusia dan bersedia mendatangi mereka yang tidak sempat pergi ke kuil. Ini sangat menyentuhku, karena aku pun sering tidak sempat ke vihara. Akhirnya aku biasakan membuat "sudut kecil" di rumah untuk berdoa, menyalakan dupa, dan membaca paritta. Di momen-momen sulit, kata-kata bijak Dewi Kwan Im tentang welas asih membuatku belajar memaafkan orang lain dan juga diri sendiri.
Di Zang Wang Pu Sa dikenal sebagai Bodhisattva yang melindungi makhluk di alam-alam sengsara. Dalam empat pusaka Xin Ling Fa Men, berikrar dikaitkan dengan Di Zang Wang Pu Sa. Aku pernah berikrar dengan sungguh-sungguh untuk berubah dari satu kebiasaan buruk yang sudah lama melekat. Prosesnya tidak mudah, seperti kata teks tentang teratai: mengubah kekurangan dan membina pikiran itu sulit. Tapi, setiap kali jatuh, aku ingat kembali ikrar di depan Di Zang Wang Pu Sa dan bangkit pelan-pelan.
Hal lain yang juga penting adalah hubungan dengan makhluk halus dan pohon bodhisattva. Di salah satu teks OCR disebutkan bahwa jika seseorang punya makhluk halus dan tidak mau berubah, Bodhisattva dan Dewa Pelindung Dharma bisa menjauh. Ini mengingatkanku bahwa praktik spiritual bukan cuma soal berdoa, tapi juga soal berhenti melakukan hal-hal yang tidak baik, supaya tidak mengundang energi negatif. Sejak itu aku lebih hati-hati dengan ucapan, makanan, dan perbuatan sehari-hari.
Soal tapeicou dan mantra makan, aku pribadi mencoba membiasakan diri membaca doa sebelum makan, sekaligus mengingatkan diri untuk lebih sering makan vegetarian, terutama di hari-hari penting seperti hari kelahiran suci Bodhisattva. Rasanya beda ketika makan sambil membawa rasa syukur dan welas asih pada semua makhluk.
Terakhir, ajaran Master Jun Hong Lu yang sering diulang adalah: tetaplah dekat dengan Bodhisattva. Bagiku, "dekat" bukan hanya rajin bersembahyang, tapi juga berusaha mempraktikkan sifat Bodhisattva dalam kehidupan sehari-hari: tiada kerisauan berlebihan, lebih banyak welas asih, tekun membaca sutra, berikrar baik, fang sheng (melepaskan makhluk hidup) dengan cara yang benar, dan terus memperbaiki diri. Dari pengalaman pribadi, saat kita sungguh-sungguh berlatih, hidup memang pelan-pelan menjadi lebih terang dan damai.