"ART dapat THR, aku dapat 'terima kasih ya'. Syukur-syukur kalau diucapin..." 🥀😭
Jujur ya Bestie, kadang suka batin nggak sih? Lihat ART kita ada jam kerjanya, ada hari liburnya, dan tiap tahun dapet THR yang jelas nominalnya. 🫠
Sedangkan kita?
⏰ Jam kerja: 24/7 (nggak ada jam pulang).
💰 Gaji: "Nanti dapet pahala di surga".
👗 THR: Sisa uang belanja yang dipirit-pirit sendiri.
Bukannya nggak ikhlas jadi istri dan ibu, tapi kadang kita juga pengen diakui "profesinya". Kita juga pengen ngerasa kalau kerja keras kita selama setahun penuh itu ada apresiasi manisnya, bukan cuma dianggap sebagai "kewajiban yang sudah sewajarnya". 💔
Para suami, jangan lupa kasih "THR" buat istri ya. Bukan karena dia mata duitan, tapi karena dia butuh merasa bahwa pengorbanannya itu bernilai di matamu.
Ada yang sama ngerasa "cemburu sosial" gini juga nggak? Curhat di bawah yuk, biar plong! 🤗👇
... Baca selengkapnyaSebagai seorang istri rumah tangga, saya sering merasakan perasaan yang sama seperti yang diungkapkan dalam artikel ini. Kerja keras 24 jam tanpa libur yang jelas, multitasking dari mulai mengurus anak, rumah, hingga memasak, seringkali membuat saya merasa kelelahan tanpa pengakuan yang layak. Saya pernah melihat ART yang bekerja dengan jam yang terbatas, menerima THR yang jelas, dan memiliki waktu istirahat yang pasti. Sementara saya, yang hanya mendapat "terima kasih" atau paling bagus mendapat sisa uang belanja sebagai "THR".
Pengalaman ini membuat saya semakin sadar bahwa menjadi IRT bukan sekadar status, melainkan profesi yang membutuhkan dedikasi tinggi dan kesabaran luar biasa. Saya menyadari pentingnya pengakuan dari suami sebagai apresiasi nyata, bukan semata-mata karena kewajiban atau cinta tanpa syarat. Memberikan "THR" khusus untuk istri bukan tentang uang, melainkan bentuk penghargaan atas peran dan pengorbanannya selama ini.
Selain itu, pentingnya komunikasi dalam keluarga juga sangat terasa. Ketika suami menunjukkan rasa terima kasih dan perhatian, semangat saya untuk menjalankan tugas sehari-hari meningkat. Sebaliknya, rasa cemburu sosial terhadap ART yang mendapatkan hak lebih jelas malah menambah rasa sedih dan tidak dihargai.
Saya juga ingin mengingatkan para suami dan keluarga bahwa peran IRT sama beratnya dengan pekerja profesional lainnya, bahkan tanpa cuti dan jam kerja yang pasti. Dengan pengertian dan apresiasi yang benar, beban mental istri bisa berkurang dan hubungan keluarga menjadi lebih harmonis.
Jika Anda seorang IRT, saya mengajak untuk tidak ragu mengungkapkan perasaan dan kebutuhan Anda. Mari saling berbagi cerita dan dukungan agar perjuangan kita dihargai setara dengan profesi lainnya. Jangan lupa para suami, berikanlah "THR" kecil sebagai tanda cinta dan penghargaan, karena itu sangat berarti bagi istri dan keluarganya.