Di hari sabtu yang santai ini aku mau share beberapa hasil bincang² ku sama kak Rindarviana 🌿 beberapa hari yg lalu
Oiya kebetulan kita creator faceless ya dari awal ngonten. Nah kak rindar ini aktif banget bagiin kesehariannya yg suka berkebun dan memasak di akunnya
Kepoin ya guys, dia punya koleksi byk taneman loh 🤭
Nah krn kepo alhasil aku tanya² lah ke dia sebagai sesama creator tutup muka. Ada gak sih cerita lain dibaliknya. Yang aku share ini beberapa aja sih krn pasti ada hal lain yg sepertinya off konten ya bahas nya heehee
Selain kak rindar ini, kalian tau lagi gak kreator faceless di lemon8. Boleh tag akunnya, biar bisa saling sapa juga aku nya hehe🤗
... Baca selengkapnyaSejujurnya sebelum jadi faceless creator, aku juga kepo banget sama yang namanya "creator tutup muka". Kok bisa ya mereka tetap percaya diri, bisa viral, padahal wajahnya nggak kelihatan sama sekali? Dari obrolanku sama sesama creator faceless, ternyata proses di balik layar tuh lumayan panjang dan penuh pertimbangan.
Pertama soal alasan. Banyak yang kiranya faceless itu cuma ikut tren biar viral, padahal nggak selalu begitu. Ada yang memang ngerasa kurang nyaman tampil fullface, ada yang menjaga privasi keluarga, ada juga yang pengin dipandang dari sisi karya dan kontennya dulu, bukan dari penampilan. Aku pribadi ngerasa lebih lepas dan berani bereksperimen waktu nggak perlu mikirin ekspresi wajah di kamera.
Tantangannya? Jelas ada. Karena wajah nggak kelihatan, kita harus lebih kuat di hal lain: storytelling, editing, angle video, musik, sampai pemilihan teks. Gerakan tangan, detail aktivitas, dan suasana background jadi penting banget. Misal kalau lagi bahas berkebun atau masak, fokusnya ke proses: tekstur bahan, suara potongan, detail tanaman, bukan ke muka kita. Di situ justru serunya faceless content.
Soal komentar netizen, ini juga sering bikin galau. Ada yang dukung dan bilang relate karena sama-sama pemalu atau belum siap tampil. Tapi ada juga yang komentar, "Buka muka dong, pasti cantik," atau, "Ngonten kok ditutupin, nggak niat amat." Dulu aku sempat kepikiran buat buka wajah gara-gara komentar begitu, tapi setelah dipikir lagi, kita yang paling tahu batas nyaman diri sendiri. Kalau pun suatu hari mau open face, biar karena keinginan pribadi, bukan tekanan.
Tentang peluang viral, faceless creator tetap bisa kok. Justru kadang konsep tutup muka ini bikin orang penasaran. Kuncinya konsisten, punya ciri khas, dan nggak asal ikut-ikutan tren. Misalnya, ada yang fokus di niche berkebun, masak rumahan, review jujur, atau daily life sebagai Gen Z atau IRT (ibu rumah tangga) tapi dari sudut pandang yang dekat banget sama keseharian.
Kalau kamu lagi mikir mau mulai jadi creator faceless, tips dariku:
1. Tentukan batas privasi dari awal: mau nunjukin apa dan nggak mau nunjukin apa.
2. Cari gaya penutup muka yang paling nyaman: emoji, stiker, crop angle, atau cuma nampilin tangan/badan.
3. Latih skill lain: cara nulis caption yang ngobrol, cara ambil gambar biar estetik, dan cara edit video.
4. Jangan overthinking soal peralatan. Pakai HP juga bisa, yang penting ceritanya jujur dan dari pengalaman sendiri.
Intinya, jadi creator tutup muka itu bukan berarti kurang percaya diri. Kadang justru di situlah kita belajar paling berani: berani mulai, berani konsisten, dan berani milih cara tampil yang paling sesuai sama diri sendiri.
masya Allah, kak @Rindarviana 🌿 emang aku ngefans sih kontennya dia, faceless banget dan menang mulu kontennya di challenge🤩