... Baca selengkapnyaAkhir-akhir ini aku sering banget nyari quotes buku aesthetic di Pinterest, sampai akhirnya ketemu lagi sama vibes-nya Maudy Ayunda dan bukunya yang berjudul "Dear Tomorrow: Notes to My Future Self". Rasanya tuh nenangin, kayak lagi diajak ngobrol pelan-pelan sama versi diri kita di masa depan.
Kadang kita suka nanya ke diri sendiri: "Kenapa kamu merasa sangat lemah?" atau "Kenapa kamu selalu merasa salah sama apa yang kamu lakuin?" Padahal, kalau dipikir pelan-pelan, banyak hal yang udah kita lewatin, banyak versi diri yang dulu kita doain sekarang udah ada di depan mata. Tapi entah kenapa, hati tetap suka ngerasa kurang dan nyalahin diri sendiri.
Waktu baca atau lihat quotes aesthetic dari buku kayak Dear Tomorrow, aku ngerasa kayak di-reminder kalau self love itu proses, bukan tujuan. Kita nggak harus selalu kuat, kita nggak wajib selalu benar. Yang penting, pelan-pelan belajar nerima diri sendiri, termasuk versi diri yang masih berantakan.
Buat kamu yang lagi cari quote Maudy Ayunda vibes buat caption atau sekadar jadi penyemangat, kamu bisa tulis ulang kutipan-kutipan yang nyentuh hati di jurnal atau notes HP. Misalnya, bikin halaman khusus "notes to my future self" berisi kata-kata yang pengin kamu dengar saat lagi capek: pengingat kalau kamu deserve buat bahagia, meskipun hari ini rasanya berat.
Aku juga suka tata buku, lilin, dan cangkir putih di meja, terus foto dari atas biar kelihatan aesthetic ala Pinterest. Habis itu, tambahin teks pendek yang jujur dari hati, kayak: "Hari ini aku capek, tapi aku tetap bangga sama diri sendiri yang bertahan." Simpel, tapi kerasa banget.
Kalau kamu suka quotes buku aesthetic Pinterest, coba jangan cuma dikoleksi di galeri. Pilih 1–2 quote yang paling nyentuh, lalu praktikkan di kehidupan sehari-hari. Misalnya, kalau kutipannya ngomong soal istirahat, izinin diri kamu beneran istirahat tanpa rasa bersalah. Kalau ngomong soal berani bilang tidak, coba latihan bilang tidak ke hal-hal yang bikin kamu capek.
Pada akhirnya, semua quotes dan buku ini cuma alat bantu. Yang paling penting adalah gimana kamu pelan-pelan berhenti nyiksa diri sendiri dengan pikiran negatif, dan mulai ngomong ke diri sendiri dengan lebih lembut. Kamu boleh lemah, boleh salah, dan tetap layak bahagia.