#BreakingTheSkinnyTrend part 2 - Siapa sih yang mulai tren ini?
.
Yang jelas tanpa disadari kita tuh terlalu sering terpapar media. Dulu? Majalah, billboard, TV. Sekarang? music video, reality show, film, internet.
.
Jadi apa yg kita sering lihat ini bikin kita merasa kita harus seperti itu. Jahatnya lagi, hal ini dimanfaatkan sama pelaku industri.
.
Keinginan kita buat tampil sempurna sering bikin kita hopeless dan jadi BELI / melakukan apapun yg menjanjikan bahwa kita akan cantik (dalam hal ini, kurus)
.
Save & follow @_chenace karena gw akan update lebih banyak soal dunia perdietan dan weight loss trend ini.
.
Pengalaman pribadi saya melihat tren skinny sangat menggambarkan bagaimana standar kecantikan terus berubah dan sulit diprediksi. Dulu, tubuh yang berisi dianggap sebagai simbol kemakmuran dan kesehatan. Namun, dengan masuknya industri mode dan media massa, standar tersebut bergeser drastis ke arah tubuh yang lebih ramping dan langsing, yang kemudian dikenal sebagai tren skinny. Media memegang peranan besar dalam perubahan ini. Seperti yang terlacak dalam tren saat ini, paparan terus-menerus melalui video musik, reality show, film, dan sosial media membuat banyak orang merasa harus mengikuti standar tersebut demi diterima dan dianggap fashionable. Ini bukan hanya soal penampilan, tapi sudah menjadi tekanan sosial yang membuat banyak orang merasa tidak cukup baik dengan tubuh aslinya. Saya pernah merasakan sendiri bagaimana ketidaknyamanan ini bisa berujung pada kebiasaan diet ekstrem dan konsumsi produk penurunan berat badan tanpa panduan medis yang jelas. Sayangnya, industri ini sering menggunakan kebutuhan dan ketidakamanan kita sebagai peluang bisnis, menawarkan solusi instan yang belum tentu sehat. Melihat sejarahnya, tren kurus yang digandrungi ini sebenarnya bukan hal baru. Di abad sebelumnya, bangunan mode dan pakaian mulai didesain untuk menonjolkan bentuk tubuh ramping dengan pinggang kecil, sehingga secara tidak langsung memaksa wanita mengikuti bentuk itu. Namun, tren ini juga berevolusi dan berubah sesuai dengan dinamika sosial dan pemasaran. Mengikuti standar kecantikan yang terus berubah bukan hanya melelahkan tapi juga bisa merusak kesehatan mental. Saya percaya, kunci kebahagiaan dan penerimaan diri ada pada pemahaman dan kenyamanan terhadap tubuh sendiri. Standar kecantikan ideal itu relatif dan tidak bisa dipaksakan untuk semua orang. Mari kita mulai menghargai keberagaman bentuk tubuh dan menjadikan kesehatan serta kebahagiaan sebagai prioritas utama, bukan sekadar mengikuti tren yang belum tentu sehat. Ini adalah pandangan saya yang saya bagi dari pengalaman pribadi dan pengamatan terhadap perkembangan tren skinny yang terjadi saat ini.























