👦🏻Umma aku males ogh kalo si A dan si B ngomongin "aikyu aikyu" kalok aku gak tau
🧕🏻Emang gak tau nya tentang apa? tentang media sosial atau tentang pelajaran?
👦🏻Ya aku gatau umma, bukan tentang pelajaran tapi
🧕🏻kok gatau? boleh di contohin mereka ngomongnya gimana?
👦🏻ya aku gatau, "aikyu aikyu" gitu nanti kalok aku gatau pokonya
🧕🏻yaallah, Jangan ditiru yaa, itu membully namanya.biar Allah yang bales ya.next gausah main sama mereka lagi
👦🏻tapi kalok mereka manggil aku?
🧕🏻nanti umma yang jawab, gausah dipikirin
Huuuufffttthhh gimana yaa, memang anak aku gak aku bebasin buat scroll sosmed atau main game sembarangan sama orang sembarangan. Tapi aku merasa beruntung karena anak aku bertumbuh sesuai usianya.
... Baca selengkapnyaSebagai orang tua di era digital seperti sekarang, saya juga sering merasa bingung bagaimana cara membatasi anak agar tidak terlalu terpapar konten negatif yang beredar di media sosial. Saya menyadari bahwa istilah-istilah seperti "aikyu aikyu", "IQ rendah", atau bahkan ejekan seperti "NPC" dan "bot" sebenarnya hanyalah bagian dari bahasa gaul yang diadopsi anak-anak dari tren internet tanpa memahami maknanya secara mendalam.
Dari pengalaman saya, penting untuk mengawasi jenis konten yang diakses anak dan memberikan waktu bermain atau scrolling media sosial yang terbatas. Anak saya pun tidak dibiarkan bebas bermain game atau scrolling sosmed tanpa pengawasan. Justru, ketika anak tidak terlalu terpapar, mereka lebih fokus dengan aktivitas yang sesuai usia mereka dan tidak mudah terpengaruh oleh bullying verbal di lingkungan pertemanan.
Selain itu, komunikasi terbuka dengan anak sangat penting. Ajari anak untuk jujur ketika tidak mengerti sesuatu, seperti saat mereka mendengar kata-kata asing atau ejekan di sekolah. Saya selalu mengajarkan anak saya untuk mengatakan "aku nggak tahu, itu apa?" daripada merasa takut atau malu, sehingga anak dapat belajar untuk bertanya dan tidak dipersepsikan bodoh hanya karena tidak mengetahui istilah tertentu.
Kalau anak mengalami bullying verbal dengan istilah-istilah seperti "aikyu" atau sejenisnya, saya menyarankan agar orang tua membantu anak memahami bahwa itu adalah perilaku yang tidak patut ditiru, dan tidak perlu dihiraukan. Lebih baik menghindar dari teman-teman yang suka mengejek dan mencari lingkungan yang positif.
Penting juga bagi kita sebagai orang tua untuk mencontohkan sikap yang bijaksana terhadap media sosial. Saya sendiri berusaha membatasi waktu saya bersosmed agar tidak terbawa doomscrolling — kebiasaan terus menerus menggulir berita negatif atau konten tidak membangun yang justru bisa memengaruhi psikologis kita dan anak.
Dengan peran aktif orang tua dalam mengawasi dan mendampingi, anak akan tumbuh dengan sehat secara mental dan emosional, serta bisa bertahan dari berbagai pengaruh negatif di dunia digital saat ini. Jadi, walaupun istilah-istilah seperti "aikyu" atau bullying verbal mungkin sulit dihindari sepenuhnya, langkah preventif dan pengertian dari orang tua sangat menentukan bagaimana anak mampu menghadapinya.