Untung masi ada cinanya😁
Sebagai orang yang besar di Makassar, aku sering ketemu banyak teman dari latar belakang berbeda, termasuk cowok chindo. Salah satu hal yang selalu bikin ketawa adalah cara mereka ngobrol campur-campur, antara bahasa Indonesia, Makassar, kadang diselipin logat khas. Rasanya kayak lagi nonton komedi live tiap hari. Pernah satu kali, ada cowok chindo mau lewat di depan warung, terus dia bilang sambil bercanda, "Ijin cowo chindo mau lewat." Padahal nggak ada yang halangin jalan, tapi gaya ngomongnya itu yang bikin suasana langsung mencair. Orang-orang di sekitar malah jadi ketawa dan ikutan ngobrol, seolah-olah kita semua udah kenal lama. Di Makassar sendiri, banyak keluarga campuran. Ada yang ibunya orang Makassar, bapaknya orang Makassar juga, tapi bos di tempat kerja atau lingkungan sekitar adalah china. Jadinya keseharian penuh dengan campuran budaya: cara kerja yang disiplin ala bosku china, tapi tetap dibalut suasana santai ala Makassar yang nggak bisa lepas dari candaan. Aku juga sering dengar cerita teman yang bilang, "Aku Makassar china," karena keluarganya udah lama tinggal di sini. Mereka merasa Makassar itu rumah, tapi tetap bangga dengan akar Chinese mereka. Dari situ muncul banyak momen lucu, misalnya kalau lagi kumpul keluarga: ada makanan khas Makassar kayak coto dan pisang epe, tapi di sebelahnya ada makanan Chinese, dan semuanya dimakan bareng sambil saling roasting halus. Kalau bahas cowok chindo di Makassar, banyak yang bilang mereka itu unik. Ada yang gayanya rapi, ada yang cuek, tapi hampir selalu punya cerita lucu. Kadang mereka suka dijadikan bahan bercanda, tapi dalam konteks pertemanan yang sehat. Misalnya, kalau ada urusan sama bosku china di kantor, teman-teman sering bilang, "Sudah, suruh cowok chindo yang maju, pasti beres." Padahal itu cuma gurauan, tapi dari gurauan itu kelihatan kalau kita sebenarnya saling percaya. Menurutku, yang bikin seru dari chindo Makassar adalah cara mereka bisa nyatu dengan lingkungan. Mereka ikut nongkrong di warkop, ketawa waktu dengar cerita supriyanto yang selalu punya kisah kocak, dan nggak sungkan bercanda balik. Jadi bukan sekadar beda etnis, tapi benar-benar berbaur. Kalau kamu penasaran sama kehidupan cowok chindo di Makassar, coba deh perhatikan di sekitar: di pasar, di kantor, di kampus, pasti ada momen kecil yang lucu dan relate. Dari hal simpel kayak cara mereka minta izin mau lewat, sampai cara mereka negosiasi harga di toko dengan campuran bahasa yang bikin senyum-senyum sendiri. Cerita-cerita ringan kayak gini yang menurutku layak dibagi sebagai konten UGC, biar orang luar Makassar juga bisa lihat kalau keberagaman di sini nggak cuma tentang perbedaan, tapi juga tentang tawa bareng dalam keseharian.























































