Jika boleh berandai-andai dan memutar waktu, aku ingin mengulang kembali ke jaman kuliah. Seandainya waktu itu aku tidak berhenti kuliah mungkin sekarang aku tidak akan kesusahan mencari kerja karena sudah membawa modal S1. Nyatanya emang begitu di Indonesia, cari kerja susah dan persyaratannyapun kebanyakan harus S1.
Seandainya ekonomiku dulu masih baik-baik saja mungkin aku tidak akan berhenti kuliah. Dan jika dulu aku tidak berhenti kuliah mungkin sekarang aku bisa mendapatkan pekerjaan yg aku harapkan dan hidupku akan lebih tertata dan ekonomi stabil.
Tidak apa-apa semua itu sudah menjadi jalan takdir dan bisa aku jadikan pengalaman hidup. Aku bangga pernah merasakan bangku kuliah walaupun hanya sampai semester 6 dan yaah seharusnya 1 tahun lagi aku lulus tapi yaa sudahlah. Siapa tau besuk ada rejeki dan aku bisa melanjutkan kuliah. Hihi curhat sedikit yaa bun, tetap semangat untuk diri sendiri. Tidak boleh berlarut-larut dalam berandai. Tapi harus bangkit untuk membuktikan🤜🤛😇
... Baca selengkapnyaAku dulu juga mikir, "berhenti kuliah itu keputusan bodoh bukan sih?" Apalagi tiap kali lihat lowongan kerja yang syaratnya wajib S1, rasa nyeselnya muncul lagi. Tapi lama-lama aku sadar, berhenti kuliah bukan akhir hidup, cuma belokan tajam yang harus aku lewati.
Hal pertama yang bikin aku pelan-pelan berdamai adalah menerima keadaan. Waktu itu ekonomi keluarga memang lagi susah, aku nggak sanggup bayar UKT dan biaya hidup di perantauan. Daripada maksa tapi hutang numpuk dan mental makin drop, aku pilih pulang. Sakit? Jelas. Tapi setelah dijalani, aku lihat sisi lainnya: aku punya waktu buat bantu orang tua dan belajar hal lain di luar kampus.
Setelah berhenti kuliah, aku mulai cari kerja apa saja yang penting halal. Awalnya masuknya ke kerjaan yang nggak butuh ijazah S1: admin, kasir, jaga toko, freelance ngetik, sampai bantu-bantu di usaha kecil. Gajinya memang nggak seberapa, tapi dari situ pelan-pelan aku kumpulin skill. Aku belajar komputer, ngulik Excel, bikin CV yang rapi, sampai belajar komunikasi dasar biar nggak kaku pas interview.
Aku juga sempat ikut kursus online gratis dan berbayar yang harganya masih masuk akal. Banyak kok platform yang kasih kelas murah, bahkan ada yang cuma modal kuota. Dari situ aku mulai sadar, ijazah itu penting, tapi skill juga punya nilai. Beberapa teman yang sama-sama berhenti kuliah ternyata bisa kerja di dunia kreatif, desain, atau jualan online karena mereka tekun belajar sendiri.
Soal mental, ini juga berat. Rasa minder muncul tiap kumpul sama teman-teman yang sudah wisuda. Kadang aku pura-pura santai, padahal di dalam hati hancur. Pelan-pelan aku belajar buat stop bandingkan hidupku dengan timeline orang lain. Aku mulai syukuri hal-hal kecil: masih bisa bantu orang tua, masih dikasih sehat, masih dikasih kesempatan buat coba lagi.
Sekarang, kalau ingat masa kuliah, aku tetap merasa bangga pernah duduk di bangku kampus meski cuma sampai semester 6. Aku masih punya harapan suatu hari bisa lanjut lagi kalau rezekinya ada. Sambil nunggu waktu itu datang, aku fokus memperbaiki diri: kerja apa yang bisa dikerjain, upgrade skill pelan-pelan, dan jaga niat supaya nggak putus asa.
Buat kamu yang juga sedang galau karena berhenti kuliah, kamu nggak sendirian. Boleh kok sesekali berandai "seandainya dulu aku tidak berhenti kuliah, mungkin sekarang aku lebih mudah cari kerja", tapi jangan kelamaan terjebak di situ. Jadikan penyesalan itu bahan bakar buat bangkit. Entah kamu nanti bisa lanjut kuliah lagi, atau memilih jalur lain, yang penting tetap jalan, bukan berhenti di tengah rasa sedih.
Kalau sekarang lagi di posisi bingung, kamu bisa mulai dari hal kecil: perbaiki CV, cari kerja yang realistis dulu, ikut pelatihan gratis dari pemerintah atau komunitas, dan banyak-banyak cari info beasiswa atau kuliah sambil kerja. Jalan orang memang beda-beda, dan nggak semua kesuksesan datang lewat jalur S1. Yang penting kita tetap usaha dan nggak menyerah sama keadaan.
gak juga kak, buktinya banyak yang ganggur juga kak padahal sudah selesai kuliah hehehe