TALAK SAAT LAHIRAN (3)
Part 5
"Masyaallah, Nak. Kamu tampan sekali..." lirihku pelan seperti bisikan rahasia.
"Sayang sekali... wajah kamu lebih mirip Bapak kamu dibanding Ibu, Nak, " bisikku dengan senyum tipis yang nyaris pudar.
"Cepat sehat ya, Nak... biar kita bisa segera pulang ke rumah kita sendiri."
Mataku menatapnya penuh harapan.
"Ibu gak akan mengajakmu pulang ke rumah Bapak kamu. Ibu gak mau Bapak kamu dan nenek kamu menya-kiti kita lagi."
Setelah itu, kutinggalkan ruangan NICU dengan hati yang lebih ringan.
Di luar ruangan, di kursi tunggu, seorang pria langsung berdiri menyambutku. Wajahnya tegas, tapi matanya penuh simpati.
"Sudah selesai, Mbak Jenar?"
Aku mengangguk pelan. "Sudah, Pak Ekram."
Namanya Ekram Setiyadi.
Dia pria yang kemarin menjemputku dari rumah sakit tempatku bersalin. Pria yang sempat dituduh Mas Pandu sebagai selingkuhanku.
Pak Ekram adalah seorang pengacara. Dia orang yang aku percaya untuk membantu mengurus segala aturan yang bisa mempercepat proses perceraianku.
"Pak Ekram bisa bantu mempercepat proses perceraian saya, kan?"
Pak Ekram mengangguk. "Saya sudah urus semuanya jadi lebih cepat, Mbak. Tapi... Mbak Jenar dan Mas Pandu tetap harus menjalani mediasi terlebih dahulu."
"Gak bisa langsung sidang, Pak?"
"Sesuai aturan, tidak bisa, Mbak. Mediasi itu wajib dijalani dulu."
Aku terdiam. Kepalaku mengangguk pelan.
*
Tiga hari kemudian.
Sesuai peraturan pengadilan agama, sebelum resmi bercerai, aku dan Mas Pandu wajib menjalani proses mediasi terlebih dahulu. Katanya, siapa tahu masih bisa berdamai. Tapi hatiku sudah lama tidak ingin berdamai.
Aku tiba di ruang mediasi tepat waktu. Kupikir Mas Pandu mungkin akan malas datang, atau sengaja mangkir. Tapi ternyata... dia sudah duduk di sana.
Langkahku sedikit gemetar, tapi wajahku tetap kuangkat tinggi. Aku harus kuat. Untuk diriku. Untuk anakku.
Kami duduk berseberangan. Di antara kami duduk seorang mediator perempuan berhijab rapi dengan wajah hangat dan formal. Di tangannya ada map biru berisi berkas gugatan.
"Baik, saya mulai proses mediasinya ya, Pak, Bu."
Aku dan Mas Pandu sama-sama mengangguk.
"Sesuai data gugatan, penggugat adalah Bu Jenar Pratiwi, sedangkan tergugat adalah Pak Pandu Handoko. Benar?"
Kami kembali mengangguk.
"Bu Jenar menggugat Pak Pandu karena dugaan Pak Pandu berselingkuh. Benar?"
Aku mengangguk tegas.
Bu Mediator menoleh pada Mas Pandu. "Pak Pandu, apakah Anda benar berselingkuh dari istri Anda?"
"Semua itu hanya fitnah. Saya tidak pernah berselingkuh. Saya ini suami setia. Saya sayang keluarga saya. Semua tuduhan istri saya itu... tidak berdasar."
"Tidak!" kataku tegas. "Saya punya alasan kuat. Dan saya yakin dia berselingkuh!"
Mas Pandu langsung memutar arah pembicaraan. Ekspresi liciknya kembali muncul.
"Apa kamu punya bukti kalau aku selingkuh, Jenar?" tanyanya menyindir. "Bukannya kamu yang justru selingkuh dengan pria lain? Kamu tiba-tiba dapat uang banyak pas hamil, kamu operasi Caesar diam-diam. Pasti kamu dapat uang itu dari selingkuhanmu, kan?" Di akhir kalimatnya, dia menyeringai, seolah yakin aku akan terpojok.
Tapi dia tidak tahu... aku sudah menyiapkan semuanya.
Aku menarik napas dalam, lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tasku. "Aku punya bukti perselingkuhanmu dengan lon-te itu, Mas."
Jari-jariku bergerak cepat membuka galeri, dan... klik.
Sebuah video kubuka dan kuperlihatkan kepada mereka.
Suara berde-sah. Latar kamar hotel. Suara Mas Pandu yang terdengar jelas menyebut nama: “Rita…” Gambar itu tidak bisa dibantah karena terlihat jelas wajah Mas Pandu dan Rita.
Seketika wajah Bu Mediator berubah. Matanya membulat. Tangannya menutup mulutnya, nyaris tak percaya.
Mas Pandu… langsung berdiri. Matanya melotot sempurna.Tangannya mengepal. Wajahnya merah seperti akan meledak.
"DARI MANA KAMU DAPAT VIDEO ITU, JENAR?!"
Baca part selanjutnya di aplikasi KBM App ya...
Judul : TALAK SAAT LAHIRAN
Penulis : Dewi Diyu

































