MADUKU MEMBALAS PENDERITAANKU (2)
BAB 2.
Siska bangkit dari duduknya, menatap t a j am ke arah mertua sahabatnya itu. Siska menunjuk ke arah muka Rahma dengan suara keras.
“Jaga mulut Kamu, ne nek lampir. Aini, aku yang bayar. Karena u4 ng yang kau beri itu hanya cukup untuk beli ikan asin. Ini buktinya. Pak, berapa total semua pesanan kami?” sentak Siska.
Lantas gadis itu mengambil u4ng seratus ribuan setelah kasir menyebut jumlah total yang mesti dibayar.
“Anak kemarin sore jangan suka ikut campur urusan orang tua. Ayo Aini,” ba las Rahma.
Perempuan itu menarik pak sa tangan Aini. Kembali Siska membantu Aini dengan menolak tubuh Rahma. Hingga perempuan itu hampir terjatuh.
“Jangan tarik sembarangan, Biar Aini pulang sendiri. Ayo Aini,” ajak Siska.
Aini pun mengambil barang belanjaannya dan mengikuti Siska. Rahma mengepal tangannya karena kesal. Dalam hatinya berjanji akan membuat Siska dalam masalah.
“Aku pasti membalas perbuatan pembantu sia_lan itu,” gumam Rahma.
Dengan cepat Rahma menyusul Aini dan Siska. Rahma tidak memarahi Aini di jalan, karena tidak ingin nama baiknya tercemar. Karena keluarga Mereka dikenal sebagai keluarga paling dermawan, padahal itu hanyalah topeng belaka.
“Terima kasih, Siska. Setidaknya Aku sudah kenyang. Walaupun kena hukuman,” kata Aini.
“Kamu tenang aja, jika nanti tidak diberi makan siang. Habis sholat dzuhur aku, akan kasih nasi lewat pagar. Masuklah, Itu nenek lam-pir mau sampai.” balas Siska.
Aini segera masuk ke dalam pekarangan rumah Rahma. Dengan cepat perempuan muda itu menuju ke dapur dan berpura-pura sibuk membersihkan ikan. Karena Dia tahu, Rahma tidak akan memarahinya jika dia sedang ada pekerjaan. Melihat sang menantu sibuk dengan memasak. Rahma kembali ke kamarnya untuk nonton televisi.
“Ini ikan Aku panggang aja, biar cepat selesai. Terus buat sayur asem aja,” gumam Aini.
Dengan cekatan Aini mengolah bumbu untuk ikan panggang. Karena sang suami selalu pulang untuk makan siang. Karena masakan Aini pas di lidah Faisal. Waktu terus berjalan, semua makanan sudah terhidang di meja makan.
“Sudah siap Aini? Itu suami Kamu sudah datang, sambut sana!” titah Rahma.
“Ya Ma. sudah selesai semuanya. Aku ke depan.” balas Aini.
Rahma mengibas tangannya seolah mengusir Aini dari hadapannya. Nampak seorang lelaki tampan tersenyum pada Aini. Dia adalah Faisal, suami Aini. Usia Faisal tiga tahun lebih muda dari Aini.
“Masak apa Aini? Kok Kamu makin lama makin jel ek aja? Menyesal dulu aku nikahin kamu,” ejek Faisal.
Hati Aini sangat sakit mendengar hina an dari sang suami. Perempuan itu tidak menjawab pertanyaan Faisal. Hingga Faisal marah dan membentaknya.
“Selain jele k, Kamu juga sudah tu li Aini. Kenapa tidak jawab pertanyaan aku?” ben tak Faisal.
“Hari ini Aku masak ikan panggang kesukaan kamu,” balas Aini dengan suara bergetar.
Faisal melewati Aini begitu saja, Aini mengikuti sang suami dari belakang. Faisal langsung duduk dan Aini melayaninya seperti seorang raja.
“Kamu tidak usah makan siang Aini. Kan tadi udah makan mie, pergi sana!” usir Rahma.
Mereka pun makan dengan lahap tanpa peduli dengan Aini yang perutnya kelaparan. Aini menuju ke kamarnya yang berada di dekat dapur. Lantas mengambil handuk untuk mandi. Suara adzan bergema di mesjid-mesjid, Aini segera berwudhu dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.
“Ma, Aku menikah lagi ya? Aku menyukai seseorang di kantor, dia cantik dan juga punya kedudukan yang lebih tinggi dari aku.” kata Faisal dengan suara pelan.
Pria itu melihat ke arah dapur, takut Aini mendengar percakapannya dengan Rahma.
“Maksud kamu bagaimana? jangan bilang jika atasan kamu menyukai kamu?” tanya Rahma.
“Ya Ma. Dalam beberapa bulan ini, aku mengejar zahra. Dan ternyata Dia juga menyukaiku. Bagaimana dengan Aini, Ma? Apa aku ceraikan saja dia?” tanya Faisal.
Judul : Maduku Membalas Penderitaanku
Karya : Nuryanti64
Tamat di KBM App










































