MAFUKU MEMBALAS PENDERITAANKU (3)

Bab 3.

Aini sangat kecewa dengan apa yang diucapkan oleh suaminya. Namun perempuan muda itu tidak bisa berbuat banyak. Faisal sudah membuat Keputusan, Aini baru menyadari selama dua bulan ini Faisal tidak memberi nafkah batin padanya lagi.

“Pergilah, Mataku sakit melihat wajah jel ek Kamu. Mulai sekarang aku tidak akan masuk lagi ke kamar kamu.” usir Faisal.

Aini tidak membantah dan membalas hina an Faisal, Aini segera masuk ke kamarnya. Perempuan itu menangis menumpahkan semua isi hatinya.

“Apa aku minta cerai aja? tapi Aku mesti kemana lagi? rumah di kampung sudah Bang Faisal jual, hikzz..Ya Allah, sangat sa kit.” lirih Aini.

Perempuan itu menangis tersedu–sedu, Andai saja Dia mempunyai orang tua. Pasti Dia bisa mencurahkan semua isi hatinya.

“Pasti Aini lagi nangis, mampus sana. Salah sendiri, kenapa berubah jadi jelek dan tidak bisa memuaskan Aku di ran- j4ng.” gumam Faisal.

Pria itu menghisap r-okoknya, lantas melihat ke ponselnya. Faisal tersenyum melihat chat dari kekasih hati. Hingga beberapa gadis datang memberi salam. Faisal masuk ke dalam rumah dan memanggil Mira. Karena teman–temannya sudah datang.

“Aini, buatkan mama susu!”

Terdengar suara teriakan Rahma di ruang keluarga. Akan tetapi Aini tidak juga muncul–muncul. Membuat sang mertua bangkit dari duduknya dan ingin menyusul Aini ke kamar. Akan tetapi Faisal menahan Rahma.

“Ma. Aini lagi nangis kayaknya. Biarin aja, Mama buat sendiri aja malam ini.” cegah Faisal.

“Mana bisa Sal. Ini sudah tugasnya. Ngapain dia nangis segala? nggak sadar dari mana asalnya?” tanya Rahma.

“Sudahlah Ma. malu dengan teman-teman Mira itu. Suara mama sudah seperti toa mesjid aja. Jangan buat keluarga kita malu, aku khawatir Aini mengamuk.” balas Faisal.

Karena Faisal pernah melihat Aini marah padanya dan memilih pergi. Untung saja Dia mempunyai ancaman yang membuat Aini tidak bisa kemana-mana.

“Baiklah, untuk malam ini dia selamat. Kamu juga kenapa cepat kali ceritain ke dia? Udah tau anaknya cengeng banget.” gerutu Rahma.

“Ya mau bagaimana lagi Ma? Besok Zahra akan datang. Aku tidak ingin ada keributan, emang mama mau Aini marah-marah dan membuat Zahra tidak mau menikah denganku?” tanya Faisal.

“Ia Sal. Terserah lah, yang penting bawakan mama menantu yang tajir. Kita bisa memanfaatkan hartanya. Jangan hanya sepetak tanah seperti punya Aini di kampung.” balas Rahma.

“Ya Ma. tenang aja, Aku yakin saat ini Zahra lagi bucin ke aku. Dia pasti akan menyerahkan semua hartanya jika aku minta. Aku ke kamar dulu, mau telponan dengan Zahra.” kata Faisal.

Senyum terhias di wajah Faisal, pria tampan itu benar-benar sudah ma buk asmara dengan wanita yang bernama Zahra.

“Katanya Zahra yang bucin. Padahal Dia, aku penasaran seperti apa gadis yang sudah membuat Faisal jatuh cinta. Semoga benar-benar anak orang kaya.” gumam Rahma.

Tanpa Faisal dan Rahma sadari, Aini mendengar semua pembicaraan Mereka. Tangan perempuan itu mengepal mengingat harta satu-satu milik keluarganya di jual dengan alasan Mereka pindah ke kota dan akan membangun rumah sendiri.

“Aku mesti menolong gadis yang bernama Zahra itu. Jangan sampai dia masuk perangkap Bang Faisal. Cukup aku saja yang sudah terpedaya. Tapi apa Dia percaya?” gumam Aini.

Dengan cepat Aini kembali ke kamarnya, karena tidak ingin Rahma melihat dirinya. Rahma pun beranjak dari duduknya untuk ke dapur. Dia membuat susu untuk dirinya sendiri.

“Emang enak di madu? kasihan Kamu, Aini. salah sendiri kenapa jadi wanita misk in,”

Rahma masih saja menghi na Aini, padahal ucapannya Aini dengar di balik pintu kamar. Setelah memastikan Rahma tidak ada lagi di dapur, Aini keluar dari kamarnya menuju ke kamar mandi.

“Allahu Akbar!”

Judul : Maduku Membalas Penderitaanku

Karya : Nuryanti64

Tamat di KBM App

1/5 Diedit ke

... Baca selengkapnyaCerita ini menggambarkan realita pahit yang mungkin dialami banyak wanita di luar sana, terutama ketika menghadapi suami yang sudah tidak menghargai dan malah menghina. Aini, sebagai tokoh utama, menjadi contoh betapa perjuangan batin seorang wanita bisa sangat berat saat berhadapan dengan pengkhianatan dan pengabaian. Dalam perjalanan hidupnya, Aini bukan hanya berhadapan dengan suaminya Faisal tapi juga dengan mertua dan tekanan sosial yang menyertai. Hal ini memberikan kita gambaran bagaimana tekanan dari keluarga dan lingkungan sekitar dapat memperparah luka hati seseorang. Melalui pembacaan cerita ini, aku semakin memahami pentingnya dukungan emosional dan perlindungan hukum bagi wanita yang mengalami kekerasan atau penyiksaan di dalam rumah. Selain itu, cerita ini juga menyinggung soal manipulasi dan tipu daya yang dilakukan Faisal terhadap Zahra, yang membuat kita waspada akan bahaya seseorang yang hanya mengejar harta dan tidak peduli dengan perasaan orang lain. Aini pun bertekad untuk menyelamatkan Zahra, menunjukkan sisi solidaritas antar wanita yang sangat menginspirasi. Dari sudut pandang kesehatan mental, kisah ini menyoroti bagaimana trauma dan luka batin dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang, yang tidak hanya berdampak pada diri sendiri tapi juga hubungan sosial dan keluarga. Oleh karena itu, penting untuk mencari dukungan, baik dari keluarga, teman, maupun profesional ketika menghadapi masalah berat seperti ini. Secara keseluruhan, bab ini memperkaya pemahaman saya tentang pentingnya keteguhan hati, solidaritas, dan keberanian untuk menghadapi kenyataan hidup yang pahit. Saya yakin pengalaman Aini dapat menjadi inspirasi bagi siapapun yang sedang berjuang melewati masa sulit dalam kehidupan rumah tangga atau hubungan pribadi lainnya.