SURGA IBU ATAU NERAKA ISTRIKU 2
“Kenapa kamu bersedih?” tanya Damar, meski ia tahu jawabannya.
“Aku tidak mau mobil itu, Mas,” suara Kinan lirih, tertahan.
“Jika hadiah itu hanya akan membuatmu bertengkar hebat dengan ibumu. Aku dengar semuanya. Suaramu, suara Ibu. Aku takut, Mas.”
Damar membelai rambut Kinan yang harum. “S4yangku, mobil itu adalah hakmu. Bukan hadiah, tapi hak. Setelah hampir lima tahun membina rumah tangga, setelah semua yang kamu tanggung sikap ibu, tuntutan Laras, cibiran ayah tiriku, kamu pantas mendapatkan lebih dari ini.”
“Tapi, Mas, aku baik-baik saja. Aku kuat. Yang penting kamu bisa bekerja dengan tenang, rumah tangga kita aman,” protes Kinan, matanya berkaca-kaca. Kalimat itu adalah lagu lama, mantra yang selalu ia ucapkan untuk menenangkan diri sendiri dan suaminya.
“Tidak, Kinan,” Damar memegang pundak istrinya, memandanginya dengan serius. “Tidak lagi. Selama ini ‘yang penting’ selalu tentang aku, tentang ibu, tentang orang lain. Mulai sekarang, kamu yang penting. Kebahagiaanmu yang penting. Dan aku akan bahagiakan kamu, dengan caraku sendiri.”
Air mata yang selama ini ditahan Kinan akhirnya jatuh. Bukan air mata kesedihan, tapi kelegaan yang bercampur rasa takut. Ia sudah terlalu lama hidup dalam bayang-bayang, mengukur setiap keinginannya, mengecilkan setiap haknya. Kata-kata Damar bagai membuka sangkar, tetapi ia hampir lupa cara terbang.
Damar m3meluknya lagi, membiarkan istrinya menangis. Di luar jendela, mobil perak itu berdiam, menjadi saksi bisu dari pergolakan dalam rumah ini. Setelah air mata reda, Damar mencium kening Kinan.
“Aku mandi dulu. Nanti malam kita m4kan di luar. Merayakan mobil barumu. Hanya kita berdua.”
Kinan mengangguk, mencoba tersenyum lebih cerah. Damar memberinya senyuman meyakinkan sebelum berbalik dan mengambil handuk.
Sementara itu diruang tamu, Bu Darmi duduk bagai patung. Telinganya menyaring setiap suara dari dalam kamar. Ia mendengar suara pelan, desahan, tangisan yang ditahan. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang sinis. “Menangis lagi. Drama perempuan lemah biar dikasihani,” pikirnya. Ia tidak mendengar kata-kata spesifik, tetapi nada Damar yang lembut dan membela membuat darahnya mendidih kembali. Ia melihat Damar keluar dengan handuk, menuju kamar mandi tanpa melihat ke arahnya.
Saat itulah rencana mulai tersusun di kepalanya. Jika Damar keras kepala, maka sasaran empuknya adalah Kinan. Perempuan itu lemah, penurut, dan penakut. Sebuah ancaman halus, pembicaraan ‘berdua’ antara mertua dan menantu, mungkin bisa mengubah segalanya. Bu Darmi membayangkan dirinya duduk berhadapan dengan Kinan, mengurai kata-kata yang bisa menggoyahkan keyakinan perempuan itu. Tentang bagaimana sebuah mobil mewah hanya akan memicu iri hati, tentang bagaimana tindakan Damar justru merusak harmoni keluarga, tentang betapa egoisnya memisahkan seorang anak dari ibunya.
Tangannya meraih ponsel mewahnya. Jarinya menari di atas layar, mengirim pesan singkat kepada Laras.
“Datang kemari kakakmu mau membawa Kinan makan diluar,"
Senjata terbaiknya bukan hanya amarah, tetapi persekutuan. Ia masih punya suami yang selalu mendukungnya karena u4ng Damar, dan seorang an4k perempuan yang manja yang akan merengek meminta mobil itu hingga Damar lelah. Mereka akan berhadapan dengan Kinan. Mereka akan membuatnya merasa sebagai pengganggu, pencuri kebahagiaan keluarga.
Saat Damar keluar dari k4mar, bersiap dengan pakaian yang lebih rapi, Bu Darmi masih duduk di sana. Damar terhenti sejenak, terkejut melihat ibunya masih ada.
“Ibu masih di sini?” tanyanya, nada datar.
“Ini juga rumah ibu, Nak. Atau sekarang sudah dilarang karena wanita s3rakah itu?” sahut Bu Darmi, dengan nada korban yang tiba-tiba ia mainkan dengan mahir.
judul: Surga Ibu atau N3raka Istriku
penulis: RintikHujan89
aplikasi: KBM #fypシ #viral #tranding #fyppppppppppppppppppppppp


















































