USAI TALAK VIA EMAIL 1
Part 1
"Mas, kamu yakin nggak mau ikut? Kamu bisa nemenin aku kerja sekalian kita liburan, kan?" ajak Senja sambil bergelayut manja di lengan Amar. Namun, lelaki itu langsung menepis tangannya dan bergeser menjauh.
"Aku ada kerjaan. Lagian kamu niat kerja atau liburan sih?" sahutnya dingin.
Senja tetap mencoba membujuk. Ia menjelaskan bahwa dirinya hanya akan syuting iklan di Thailand selama seminggu. Bahkan ia berharap perjalanan itu bisa menjadi kesempatan mengulang bulan madu agar hubungan mereka kembali hangat.
"Mas, kalau kamu ambil cuti, kita bisa fokus mengulang bulan madu. Siapa tahu dengan punya waktu berdua lebih lama—"
"Sudahlah, Senja!" potong Amar. "Aku lagi nggak mau bahas ini. Kita bukan setahun dua tahun menikah. Kamu itu memang sudah ditakdirkan nggak bisa kasih aku anak. Nggak perlu pakai segala program ini itu. Buang waktu!"
Ucapan itu menghancurkan hati Senja. Selama hampir tujuh tahun menikah, mereka memang belum dikaruniai anak. Namun, mereka bahkan belum pernah memeriksakan diri ke dokter. Lebih menyakitkan lagi, Amar sudah lama tak pernah menyentuhnya.
Air mata Senja mengalir. Amar sama sekali tak peduli. Ia mengambil tas kerja lalu pergi. Tak lama kemudian ia kembali hanya untuk berkata, "Lemari kamu jangan dikunci!"
"Kenapa?"
"Mungkin aku membutuhkan sesuatu di sana."
Tanpa penjelasan lain, Amar kembali pergi. Senja mengira mungkin ada pakaian yang tertukar, lalu berangkat ke Thailand tanpa menaruh curiga.
Di Thailand, Senja mulai gelisah karena ponsel Amar tak pernah aktif. Ia juga gagal menghubungi ART, sopir, hingga Mama Rianti. Tara, sahabat sekaligus asistennya, mencoba menenangkan.
"Cuma nggak aktif, kok. Bisa aja kehabisan baterai."
"Iya, sih. Mungkin aku telepon aja lagi nanti setelah take," jawab Senja, meski firasatnya tidak tenang.
Malam harinya, setelah syuting selesai, Amar tetap tak bisa dihubungi. Tepat pukul dua dini hari, sebuah email masuk dari alamat milik suaminya.
Dengan tangan gemetar, Senja membukanya.
*"Hari ini, saya, Amar Raditya bin Damara tanpa paksaan pihak manapun, ingin bercerai dan menjatuhkan talak kepada Senja Adriana binti Suwarsono. Segala upaya hukum akan segera diproses sesuai ketentuan."*
Berkali-kali Senja membaca isi email itu hingga akhirnya menangis sesenggukan.
"Kenapa?" tanya Tara yang terbangun.
"Keterlaluan! Apa dia bukan laki-laki sampai harus bertindak cemen begini?" geram Tara setelah membaca email tersebut.
Senja ingin segera pulang, tetapi kontrak syuting masih menyisakan dua hari. Tara berjanji akan berusaha menghubungi Amar, namun semua usahanya sia-sia.
Seminggu kemudian, begitu tiba di Indonesia, Senja langsung pulang ke rumah. Namun, Pak Surya, satpam, justru menghalanginya.
"Saya minta maaf, Bu Senja. Ini perintah Pak Amar. Ibu dilarang masuk lagi ke rumah ini."
"Dilarang? Bagaimana dengan barang-barang saya?"
"Bapak bilang, barang-barang Bu Senja sudah dikirim ke apartemen."
Barulah Senja sadar mengapa Amar memintanya tidak mengunci lemari sebelum berangkat. Semua ternyata telah direncanakan sejak awal.
Masih berharap mendapat penjelasan, Senja mendatangi rumah mertuanya. Di sana, Mama Rianti menghadangnya.
"Amar tidak ada di sini, Senja."
"Mama tahu soal talak yang ia jatuhkan?"
"Sudah lama Amar merencanakannya. Dia hanya kasihan sama kamu. Begitu kamu pergi, dia langsung menjatuhkan talak. Amar laki-laki satu-satunya di keluarga ini. Kami ingin keturunan. Sebentar lagi, Amar akan menikah dengan wanita pilihan Mama."
"Jadi, ini juga rencana Mama?"
"Mungkin ...," jawab Ranti sambil tersenyum.
Saat itu ponsel Senja berbunyi. Pesan dari Namira, adik Amar, memintanya menolong sang kakak karena pernikahan itu bukan sepenuhnya keinginan Amar. Namun, hati Senja sudah terlalu hancur.
"Baik, Ma. Senja pamit dari keluarga ini. Kalau Mama menganggap Mas Amar adalah anak yang bebas Mama perintah sesuka hati, ambil saja Mas Amar kembali!"
Judul: Usai Talak Via Email
Penulis: mommy_alkai
Aplikasi baca: KBM Apps





























































