Kadang aku berpikir, mungkin yang membuat pekerjaan ini terasa berat bukan hanya karena tanggung jawabnya besar, tapi karena terlalu banyak yang harus kita simpan sendiri.
Rasa lelah yang nggak kelihatan, tekanan yang datang dari berbagai arah, dan ekspektasi untuk selalu sempurna… padahal kita juga manusia.
Menjadi guru memang mulia, tapi bukan berarti selalu bahagia.
Ada kalanya hati ini ingin berhenti sejenak — bukan menyerah, hanya ingin bernapas dan menemukan kembali alasan kenapa dulu aku memilih jalan ini. 🌿
Dan kalau suatu hari aku memilih jalan lain, bukan karena aku tak cinta mengajar…
tapi karena aku ingin tetap utuh, bahagia, dan berguna — dengan cara yang baru. 🌸
... Baca selengkapnyaSebagai guru di MTS Umdatur Rasikhien, aku makin sadar kalau yang orang lihat itu cuma ujungnya saja: jam masuk, ngajar di kelas, lalu pulang. Padahal, di balik ruangan kelas kosong dengan meja-kursi rapi itu, ada banyak hal yang nggak kelihatan dan sering bikin hati capek.
Misalnya, beban kerja yang nggak kelihatan. Setelah bel pulang, kelas mungkin sepi, tapi laptop justru baru beneran kerja. Koreksi tugas, bikin soal, nyiapin RPP, laporan ini-itu, sampai mikirin cara biar anak-anak paham materi. Kadang rasanya waktu buat diri sendiri hampir nggak ada.
Ekspektasi tinggi, penghargaan rendah juga kerasa banget. Di satu sisi guru dituntut sabar, telaten, selalu siap jadi panutan. Tapi ketika ada salah sedikit, kritik datang dari banyak arah: orang tua, sekolah, bahkan dari murid sendiri. Di situ kadang muncul pertanyaan, "Siapa yang benar-benar ngerti perasaan guru?"
Tekanan sosial dan emosional juga lumayan berat. Di lingkungan kerja yang kompetitif, sesama guru bisa saja saling dibandingkan: siapa yang lebih disukai murid, siapa yang lebih dekat dengan pimpinan, siapa yang lebih sering dapat amanah. Kalau mental nggak kuat, mudah banget merasa nggak cukup baik.
Ruang berkembang yang terbatas pun jadi tantangan. Nggak semua sekolah punya fasilitas atau budaya yang mendukung inovasi. Kadang ide-ide baru harus berhadapan dengan kalimat, "Dari dulu juga begini, kenapa harus diubah?" Padahal, guru juga butuh berkembang supaya nggak jenuh dan bisa tetap relevan buat murid.
Tapi di sisi lain, ada momen-momen kecil yang bikin hati hangat. Misalnya, makan bareng guru lain di lantai sambil cerita ringan, saling curhat soal kelas, atau ketawa bareng karena hal sepele. Kebersamaan seperti itu jadi obat di tengah tekanan kerja.
Di MTS Umdatur Rasikhien, aku belajar kalau wajar banget kalau guru pun bisa lelah. Bukan berarti nggak ikhlas, tapi karena kita juga manusia. Ada hari di mana aku cuma ingin duduk diam di kelas kosong, melihat cahaya dari pintu, dan bertanya ke diri sendiri: "Masih mau lanjut nggak?" Jawabannya sering berubah-ubah, tapi sejauh ini, wajah-wajah murid yang ramai menyapa di pagi hari masih jadi alasan kuat untuk bertahan.
Kalau suatu hari aku memilih jalan lain, aku ingin orang paham bahwa itu bukan karena berhenti mencintai dunia mengajar, tapi karena ingin tetap utuh dan bahagia. Guru juga berhak punya pilihan hidupnya sendiri, tanpa harus merasa bersalah terus-menerus.
kerjakan profesinya kak dengan tulus ikhlas seperti orang tua mengajari anak2nya, niscaya lelah mu akan hilang